
WASHINGTON (Lenteratoday) - Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden mengakui warga sipil di Jalur Gaza tewas akibat bom yang dipasok negaranya ke Israel, serta strategi- strategi lain yang menargetkan pusat-pusat penduduk.
“Warga sipil terbunuh di Gaza akibat bom-bom tersebut dan strategi lain yang mereka lakukan untuk menyasar pusat-pusat pemukiman,” kata Presiden Biden saat dikutip Kamis (9/5/2024).
Pada 7 Oktober 2023, kelompok perlawanan Palestina Hamas meluncurkan serangan ke Israel dari Gaza hingga menewaskan hampir 1.200 warga Israel, baik militer maupun warga sipil. Sekitar 240 warga Israel disandera.
Israel lantas memerintahkan pengepungan total terhadap Gaza dan memulai pengeboman serta invasi darat ke daerah kantong Palestina tersebut dengan tujuan melenyapkan petempur Hamas dan menyelamatkan para sandera.
Sejauh ini, sekitar 35.000 warga Palestina terbunuh dalam serangan yang dilakukan militer Israel di Gaza dan lebih dari 78.000 orang lainnya terluka. Sementara itu, sekitar 1,8 juta penduduk Gaza terpaksa mengungsi ke tempat lain.
Respons Israel AS Setop Kirim Bom
Militer Israel memberikan respons santai atas keputusan Amerika Serikat (AS), sekutunya, menangguhkan pengiriman bom di tengah kekhawatiran invasi darat besar-besaran oleh Tel Aviv ke Rafah, Jalur Gaza bagian selatan.
Seperti dilansir media lokal, The Times of Israel, Kamis (9/5/2024), juru bicara militer Israel, Laksamana Muda Daniel Hagari, mengatakan bahwa sekutu menyelesaikan setiap perselisihan yang terjadi "di balik pintu tertutup".
Saat ditanya soal isu tersebut dalam konferensi pers yang digelar surat kabar Yedioth Ahronoth di Tel Aviv pada Rabu (8/5/2024), Hagari menggambarkan koordinasi antara Israel dan AS telah mencapai "ruang lingkup yang belum pernah terjadi sebelumnya, menurut saya, dalam sejarah Israel".
Ketika ditanya lebih lanjut soal penangguhan pengiriman pasokan bom berat oleh AS, Hagari memberikan jawaban diplomatis.
"Kami bertanggung jawab atas kepentingan keamanan Israel dan kami memperhatikan kepentingan AS di arena," ucapnya.
Dia kemudian memuji skala kerja sama antara markas besar Angkatan Bersenjata Israel (IDF) dan Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) selama perang.
"Ada sesuatu yang lebih penting daripada bantuan keamanan dan itu adalah dukungan operasional," ujarnya.
Sumber: Sputnik,The Times of Israel/Editor: widyawati