04 April 2025

Get In Touch

Kandidat Terkuat Bakal Calon Walikota Surabaya

Kandidat Terkuat Bakal Calon Walikota Surabaya

Surabaya - Surabaya salah satu kota yang nantinya akan mengikuti pesta demokrasi yaitu pilkada. Tentunya ada nama-nama terdapat beberapa nama yang digadang-gadang akan mencalonkan diri sebagai Walikota Surabaya. Semakin mendekati proses pendaftaran calon Walikota nampaknya Surabaya masih adem terhadap momentum yang dilaksanakan lima tahun sekali ini.

Fahrul Muzaqqi salah satu pengamat politik, Departemen Politik Universitas Airlangga Surabaya, mengatakan bahwa memang dari beberapa bulan yang lalu banyak nama yang muncul tetapi sudah mulai mengkerucut, tapi dirasa untuk ukuran Kota Surabaya masih belum ada semangat yang nampak.

Untuk yang Kandidat pertama, lanjut Fahrul ada Mahfud Arifin yang sedari awal gencar menyuarakan, dibuktikan bahwa menunjukan pergerakan yang relatif intesif mengawal partai untuk menaikkan elektabilitas. Yang ke dua adalah muncul nama Whisnu Sakti Buana yang sekarang menjabat wakil walikota Surabaya. Memang secara politik kemuculannya di media dan di masyarakat belum terlalu nampak, akan tetapi Whisnu memiliki modal politik yang cukup baik, secara ideologi kuat.

“selain itu ada beberapa nama lain saya rasa bisa diperhitungkan, meskipun dalam perkembaganya kuraang nampak, Zahrul Azhar atau yang akrab di panggil Gus han, saya rasa itu yang dalam beberpa bulan lalu mendapatkn rekomendasi Golkar, saya rasa sangat mungkin di perhitungkan, jadi ada beberapa sosiali gus hans di beberpa media sosial dan iklan. Saya rasa ini barang kali menjadi representasi kaum milenial karena performa beliau, gus han menampkan diri menjadi tokoh muda Bisa menjadi modal tersendiri, tinggal memoles menguatkan sgemen di kalangan milenial mendekatkan dengan partai,” ujarnya saat dihubingi via daring, Minggu (5/7/2020).

Sementara itu Eri Cahyadi semakin lama semakin meredup. Salah satu orang yang akan diproyeksikan dengan Armuji. Akan tetapi kemunculan Eri Cahyadi dirasa kurang baik di tataran elit maupun gres root, terlebih Eri dengan background Birokat, sehingga sulit bergerak karena selalu mendapatkan sorotan.

“khusus untuk Eri Cahyadi tantangan agak berat, satu sisi bayang- bayang bu risma itu yang memang modal politik disisi lain bisa jadi kendala. Belakangan jadi sorotan dan pro kontra, kaitnya dengan penanganan covid-19. Kalau Bu Rismanya baik beliau bisa mendapat efeknya begitu sebaliknya,” Ujarnya.

Terkait Armuji yang mengundurkan dari Bakal Calon Walikota Surabaya, Fachrul berpendapat Armuji masih menghitung ulang peluang Eri Cahyadi untuk maju. Amuji megundurkan diri dari Bacawali secara tidak langsung dipengaruhi oleh perkembangan situasi, sehingga menjadi kendala bagi Eri Cahyadi yang ternyata Armuji sendiri yang mundur.

Terkait sosok pemimpin apa yang diharapkan kedepan menggantikan Tri Rismaharini, Walikota saat ini, Fachrul berpendapat bahwa masyarakat di Surabaya menjadi tiga kategori. Pertama yaitu kategori loyal dengan Risma maksudnya adalah bagi para semua kandidat harus mampun menampilkan dirinya paling tidak setara dengan Risma. Caranya adalah dengan mencari alternatif yang bisa ditwarkan di masyarakat yang lebih spesifik.

“kalau du Bu Risma maju membawa isu kebersihan dan pertamanan, saya rasa para kandidat perlu menentukan isu yang spesifik seperti itu. Tidak harus sama, sehingga menjadi image bagi kandidat tersebut,” ungkapnya.

Kategori yang ke kua adalah masyarakat yang netral, artinya para kandidat perlu pendekatan yang berbeda. Hal ini yang menjadi tantangan, bagaimana para kandidat dalam mengembangkan Kota Surabaya kedepan disamping isu yang spesifik. Bagaiamana menata Surabaya lebih umum. Misalkan tata transportasi, ekonomi yang ada melemah gara-gara covid-19, yang tidak kalah peting adalah isu keseahtan sebab isu kesehatan menjadi isu global, sehingga kesehatan tidak diremehkan akan tetapi diberikan perhatian besar.

“Yang kategori ke tiga adalah kategori yang antipati terhadap bu risma. Perlu diolah kedepan membutuhkan sosok lebih tegas dibandingkan bu risma, perlu dobrakan, lebih dari bu Risma caranya perlu ada semacam tawaran yang sifatnya agak kontroversial tapi posistif. Tawaran yang unik dan jarang dipikirkan orang. Contoh masyarkat Surabaya butuh perkembangan pusat kesehatan yang sifatnya nasional. Kan sudah ada di Unair. Perlu di dukung dengan besar sehingga menjadi pusat perkembangan trhopis secara nasional,”jelasnya.

Hingga saat ini partai PDIP belum mengeluarkan rekomendasi, Fachrul mengungkapkan bahwasanya trek record PDIP kerap kali mengumumkan rekomendasi pada detik-detik menjelang penutupan pendaftaran. Jadi kalau menunggu dalam waktu dekat rekom dari PDIP dirasa susah. Untuk strategi yang digunakan menjadi pekerjaan rumah fungsionaris untuk tim kemenangan PDIP. Sebab berkaca dari Pilgub tahun lalu, PDIP kalah.

“ Untuk elektabilitasnya sebenarnya mungkin secara sekilas memang bisa jadi turun, tapi sebagian orang bisa melihat tapi disisi lain bisa melihat dari sudut pandang lain bahwa momentum waktu sampai pendaftaran dari bakal calon ke calon itu semacam ujian bagi para kandidat untuk menampilkan diri, tidak menunggu rekomendasi dulu baru bergerak tapi sebaliknya, justru ini waktunya bergerak membuktikan mana yang paling layak untuk rekom. Jika saya bu mega akan menerapkan sepeti itu, ya kalau hanya nunggu rekomendasi baru bergerak yang kok enak sekali, harusnya buktikan dirimu dulu,” jelasnya.

Fachrul melihat nantinya rasanya Pilwali di Surabaya diikuti oleh tiga calon kandidat, dengan dua poros koalisi dan satu independen. Untuk PDIP akan jadi poros tersendiri, bisa jadi merangkul partau lain. Akan tetapi yang jadi motor utamanya adalah PDIP.

“Nah yang kedua diluar PDI bisa memunculkan dua poros koalisi. Jadi koalisi PDIP dan non PDIP, PDIP yang juga punya dukungan besar PKB. Jadi warga Surabaya benderanya merah dan hijau , diluar itu gerindra dan demokrat belum nampak. Golkar bisa berdiri sendiri, yang nantinya bkin poros sendiri. Lebih ke peta ideologisnya. Saya sih ada satu yang terakhir 2-3 bulan masih in the track, petanya dua poros koalisi dan satu idependen,” pungkasnya. (ard)

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.