04 April 2025

Get In Touch

Ucapan Positif Bisa Membangun Kesehatan Mental Anak

Ilustrasi - Orang tua memberikan perhatian pada anak perempuannya (Ant)
Ilustrasi - Orang tua memberikan perhatian pada anak perempuannya (Ant)

SURABAYA (Lenteratoday) -Menggunakan kata-kata baik dari orang tua untuk membimbing anak dapat memiliki dampak yang kuat terhadap kesehatan mental dan kesejahteraan mereka.

Ditulis laman HIndustan Times, Jumat (17/5), Psikoterapis Mansi Poddar mengatakan ketika umpan balik menyoroti upaya dan kemajuan hal itu memvalidasi upaya anak merayakan pertumbuhan mereka.

“Hal ini membangun kepercayaan diri dan citra diri yang positif. Daripada mengatakan ‘pekerjaan bagus’, lebih baik ‘Saya menyukai cara kamu menggunakan warna berbeda dalam gambar itu’,” katanya.

Mansi Poddar mengungkapkan umpan balik dengan komentar positif dapat membawa kegembiraan sejati dalam pembelajaran dan pencapaian anak. Hal ini memupuk kecintaan terhadap pembelajaran dan motivasi diri. Beri apresiasi pada kerja keras yang dilakukan seorang anak.

Menurutnya, anak-anak belajar mengidentifikasi dan mengelola emosinya ketika orang tua memberikan umpan balik yang mengakui perasaannya. Ini memupuk kecerdasan emosional, dan berfokuslah pada bagaimana perilaku mereka memengaruhi Anda seperti saat anak bisa berbagi mainan dengan temannya.

“Ketika kita merayakan upaya demi tantangan, hal ini membantu meningkatkan ketahanan pada anak. Tanggapan sederhana seperti, ‘Saya tahu ujian itu sulit, tetapi kamu terus berusaha!’, dapat membuat perbedaan besar. Di sini anak-anak belajar bahwa kesalahan adalah batu loncatan, bukan kemunduran. Hal ini membangun ketabahan dan kemampuan untuk bangkit kembali dari kemunduran,” jelasnya.

Sementara itu Psikoterapis Sandy Dias Andrade mengatakan ketika orang tua berbicara kasar, kritis, tidak sabar, anak akan merasa dirinya tidak baik-baik saja dan tidak merasa dicintai.

Validasi dan memberi semangat tidak hanya bisa diungkapkan dengan kata-kata namun juga saat melihat anak dan melalui sentuhan.

“Melalui sentuhan kita dan dalam cara kita berhubungan dengan mereka, dalam beberapa cara itu memvalidasi siapa mereka pada tingkat keberadaan yang lebih dalam. Mereka merasa dilihat apa adanya. Hal ini membangun kenyamanan alami dan rasa percaya diri dalam diri mereka sendiri dan dalam kebersamaan dengan orang lain dan di dunia, sebagaimana adanya. Kami bertindak sebagai cerminan jiwa batin mereka,” katanya.

Bahasa kasih sayang

Sebelumnya, dokter praktisi neuroparenting dr. Aisah Dahlan mengatakan menjadi ibu cerdas perlu mengetahui bahasa kasih sayang yang digunakan untuk mengungkapkan rasa kasih sayang dan cinta pada orang lain.

Aisah, dalam diskusi daring mengatakan, bahasa kasih sayang yang diibaratkan “baterai” bisa dilihat dari lima aspek yakni, kata pendukung, sentuhan fisik, waktu berkualitas bersama, pelayanan, dan hadiah yang harus dipenuhi sesuai kebutuhan anak.

“Otak sumber kerjanya listrik makanya ‘baterai’ harus penuh agar jalan ke sistem saraf dan dimintai tolong, arahan siap dijalankan, ‘baterai’ kasih sayang di charge dengan bahasa kasih sayang,” kata Aisah.

Bahasa kasih sayang pada anak dan pasangan bisa berbeda, tergantung apa ‘baterai’ kasih sayang utamanya yang tertanam di otak mereka. Agar tidak kosong, baterai tersebut harus diisi minimal 3 kali seminggu agar anak maupun pasangan merasa nyaman saat bersama di rumah.

Jika kosong, akan ada perilaku menyimpang yang mengindikasikan batas kritis kurangnya kasih sayang pada anak maupun pasangan.

“Kalau tidak diisi anak akan jadi suka mengejek atau menjelekkan orang, kalau sentuhan fisik kosong anak akan jadi suka mencubit atau memukul,” katanya.

Ia melanjutkan jika anak memiliki ‘baterai’ kasih sayang senang meluangkan waktu berkualitas, maka ibu bisa menemani anak dalam setiap kegiatannya. Hal itu akan sangat berarti pada anak meskipun tidak membutuhkan apresiasi atau kata-kata pendukung.

Jika ‘baterai’ itu kosong, anak bisa jadi sering menyendiri dan sering mengunci diri di kamar seakan menghindar dari orang tua.

Sementara anak yang memiliki bahasa kasih sayang dengan pelayanan (act of service), maka anak akan cenderung lebih loyal untuk memberikan bantuan tanpa diminta (*)

Sumber: Antara|Editor: Arifin BH

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.