
SURABAYA (Lenteratoday) - Guru besar Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Prof Dr Sri Sumarmi, SKM.MSi menerima penghargaan dalam bidang Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana (BANGGA KENCANA) dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).
Perempuan yang akrab disapa Prof Mamik ini, memperoleh penghargaan karena komitmen dan peran aktifnya, dalam kesuksesan program Bangga Kencana dan percepatan penurunan angka stunting.
“Ada dua inovasi yang saya kembangkan, yakni Laduni dan Desa Emas. Melalui inovasi tersebut, turut berkontribusi dalam upaya percepatan penurunan angka stunting,” ujar Prof Mamik, Selasa(16/7/2024).
Ia menjelaskan berjalannya Program Layanan Terpadu Pranikah (Laduni) dan Desa Emas sejak 2019, telah mencetak hasil yang memuaskan. Baik Laduni maupun Desa Emas, keduanya memiliki misi yang sejalan, yakni percepatan penurunan angka stunting di berbagai wilayah.
“Mekanisme pelayanan Desa Emas ini dengan intervensi hulu, melalui berbagai pendekatan dan penerapan berbagai inovasi teknologi tepat guna,” jelasnya.
Pelayanan kesehatan dan konseling pada program Laduni, berangkat melalui intervensi utama berupa pemberian Multiple Micronutrients Supplement (MMS).
“Intervensi MMS pada tahun 2024 ini pun, menjadi program nasional untuk ibu hamil di 11 provinsi prioritas yang salah satunya ialah Jawa Timur,” ungkapnya.
Hasilnya, MMS bisa menekan angka kasus bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), sebagai salah satu faktor risiko stunting. Jika dibandingkan dengan pemberian TTD, MMS lebih efektif dalam menurunkan risiko bayi lahir prematur, bayi lahir kecil, menurunkan BBLR, hingga menurunkan risiko bayi lahir mati (still births) dan kematian bayi dalam usia 0-6 bulan.
“Jika dalam persentase, misalnya penurunan kasus BBLR 12 persen pada ibu hamil yang tidak anemia, dan 19 persen pada ibu hamil yang anemia ataupun underweight,” papar Prof Mamik.
Setelah menerima penghargaan atas kontribusinya dalam penanganan kasus stunting di Indonesia, Prof Mamik menyampaikan adanya rencana keberlanjutan dari program inovasinya.
“Ada lanjutan kegiatan Desa Emas yang akan dilaksanakan di Bondowoso, khususnya untuk pengabdian masyarakat dengan penyediaan air bersih siap minum di salah satu pondok pesantren di sana,” tutur Prof Mamik.
Kemudian dalam pemanfaatan micronutrients pada MMS, tengah berlansung studi implementasi di 25 kabupaten di Indonesia. Ia juga menambahkan bahwa terdapat kerja sama dengan pihak-pihak lainnya, seperti Jhon Hopkins University, Vitamin Angels, Universitas Indonesia, dan Universitas Hasanuddin.
Reporter: Amanah/Editor: Ais