
AMERIKA (Lenteratoday) - FlightAware melaporkan sedikitnya 4.400 penerbangan di seluruh dunia dibatalkan dan lebih dari 39.700 lainnya ditunda, akibat gangguan teknologi informasi (TI) berbasis Windows.
Menurut perusahaan Amerika pemantau penerbangan itu, jumlah penerbangan yang dibatalkan maupun ditunda tersebut tercatat pada Jumat(19/7) pukul 23.00 GMT atau Sabtu(20/7/2024) pukul 06.00 WIB.
Sebelumnya pada Jumat kemarin, tulis FlightAware di lamannya, ada lebih dari 3.200 penerbangan yang dibatalkan dan sedikitnya 29.300 ditunda di berbagai belahan dunia.
"Total penerbangan yang ditunda hari ini 39.786, total yang dibatalkan hari ini 4.417," menurut data perusahaan itu.
Kalangan perusahaan layanan telekomunikasi, bank, dan maskapai penerbangan di seluruh dunia pada Jumat pagi terkena dampak gangguan global peralatan berbasis Windows.
CrowdStrike, perusahaan teknologi Amerika Serikat bidang keamanan siber, membenarkan laporan bahwa gangguan global terjadi terkait karena ada pembaruan aplikasi keamanan siber Falcon Sensor.
Diberitakan sebelumnya, penyelidikan terhadap gangguan global pada perangkat yang menggunakan sistem operasi Windows menyimpulkan bahwa gangguan tersebut terkait dengan perangkat lunak perusahaan keamanan siber yang berbasis di Amerika Serikat, CrowdStrike.
Gangguan itu bukan disebabkan serangan siber, demikian pengumuman Otoritas Teknologi Informasi dan Komunikasi Turki pada Jumat(19/7/2024).
"CrowdStrike mengetahui laporan kerusakan pada Windows terkait dengan Sensor Falcon," kata CrowdStrike melalui lamannya.
Lewat unggahan di X, Microsoft mengatakan layanannya masih terus mengalami perbaikan seraya melakukan tindakan mitigasi.
Microsoft juga menyatakan bahwa berbagai layanannya, yakni PowerBI, Microsoft Fabric, Microsoft Teams, dan pusat admin Microsoft 365, terimbas gangguan teknologi informasi (TI).
“Kami memantau secara cermat data telemetri kami guna memastikan perkembangan yang meningkat ini berlanjut seraya tindakan mitigasi kami terus memperlihatkan kemajuan,” katanya.
Gangguan TI berskala besar sejauh ini telah berdampak di banyak sektor, mulai dari sektor penerbangan hingga kesehatan dan saluran TV.
Sumber: Antara/Editor: Ais