
KOLOM (Lenteratoday) -PRIA dan wanita dengan bibir merah karena mengunyah sirih pinang atau orang tua yang sedang menumbuk sirih pinang di lumpang merupakan hal yang wajar bagi masyarakat yang tinggal di wilayah Indonesia Timur.
Pemandangan menumbuk sirih -bagi pria dan wanita sangat lumrah. Sirih pinang merupakan bagian penting dalam tradisi masyarakat di Indonesia, termasuk masyarakat Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT), dimana saya menetap.
Ini disebabkan pemakai sirih pinang terkena efek kecanduan yang dihasilkan kandungan are caine dan are kolin pada buah pinang.
Para orang tua yang giginya sudah kurang mampu untuk mengunyah buah pinang, apalagi buah pinang sudah kering, harus menumbuk sirih pinang terlebih dahulu untuk menghilangkan rasa "hausnya".
Sirih pinang memberi efek adiktif, bahkan dalam beberapa hal menimbulkan pemandangan buruk karena efek warna merahnya.
Maka jangan heran jika beberapa perkantoran dan rumahsakit memasang tulisan: dilarang makan sirih dan membuang ludah!.
Tidak ada kegiatan orang Sumba apalagi pada hari istimewa seperti hari kelahiran, pernikahan dan ritual adat yang tidak menyediakan sirih pinang.
Hal ini disebabkan karena sampai saat ini masyarakat Sumba masih memiliki keterikatan dengan simbul peninggalan nenek moyang dan masih menjalankannya dengan dengan tertib, terutama pada acara yang berkaitan dengan kelahiran, pernikahan, kematian, membuat rumah atau acara yang bersifat transaksional yang biasanya didahului dengan apa yang disebut melihat hati hewan, dimana pemimpin adat [rato] akan membelah hati ayam atau babi untuk membaca pesan metafisis dan kehadiran sirih pinang menjadi krusial. Tanpa sirih pinang bisa dikatakan acara tidak akan dimulai.
Bagi orang Sumba sirih pinang dan bubuk kapur merupakan simbul awal terjadinya kehidupan manusia.
Bunga sirih ibarat mewakili dunia pria. Pinang adalah wanita. Sedangkan bubuk kapur adalah dunia.
Saat ketiga unsur ini bersatu dalam kunyahan, maka ketiganya mengubah air liur yang berwarna putih menjadi merah merupakan resentasi darah atau kehidupan.
Lepas dari kebutuhan harian dan ritual, sirih pinang merupakan komoditas utama untuk untuk kepentingan farmasi dan kosmetik yang akan sangat menuntungkan bila ditangani secara benar sejak penanaman hingga menjadi produk semimanufaktur.
Pinang [areca catechu) baik digunakan untuk obat anti cacing pita, disentri berdarah, kudis, pencuci mata dan mengembalikan rahim usai kehamilan.
Sedangkan sirih [piper betle] menjadibahan utama untuk hemostatik [upaya tubuh mengatasi perdarahan], antiseptic, antioksidan, menghilangkan jamur kulit dan menghilangkan bau badan (*)
Penulis: Wienarto, wartawan senior, kini tinggal di Sumba|Editor: Arifin BH