03 April 2025

Get In Touch

Wujudkan Kabupaten Blitar Bebas Stunting, Dinkes Lounching Inovasi TALI CENTING

Bupati Blitar, Hj Rini Syarifah dan Kadinkes Kab Blitar, dr Christine Indrawati bersama 4 Ketua Organisasi Kelompok Wanita (Fatayat, Muslimat, Aisyiyah dan Nasyiyatul Aisyiyah Kabupaten Blitar menekan tombol saat Lounching Inovasi TALI CENTING di Pendopo R
Bupati Blitar, Hj Rini Syarifah dan Kadinkes Kab Blitar, dr Christine Indrawati bersama 4 Ketua Organisasi Kelompok Wanita (Fatayat, Muslimat, Aisyiyah dan Nasyiyatul Aisyiyah Kabupaten Blitar menekan tombol saat Lounching Inovasi TALI CENTING di Pendopo R

BLITAR (Lenteratoday) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blitar menargetkan Zero Stunting atau bebas Stunting di wilayahnya, untuk mewujudkan ini melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat Bupati Blitar, Hj Rini Syarifah melounching Inovasi TALI CENTING yakni Kelompok Wanita Peduli Pencegahan Stunting.

Disampaikan Bupati Blitar, Hj Rini Syarifah Stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak, akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang yang ditandai dengan panjang atau tinggi badannya berada di bawah standar yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan.

"Angka Stunting di Kabupaten Blitar pada Tahun 2023 berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI), mengalami peningkatan yang signifikan dibandingkan pada tahun 2022. Dimana pada tahun 2022 Prevalensi Stunting di Kabupaten Blitar sebesar 14.3 persen dan tahun 2023 prevalensi Stunting Kabupaten Blitar naik menjadi 20.3 persen," ujar Bupati Rini dalam sambutannya saat Lounching Inovasi Tali Centing di Pendopo Ronggo Hadi Negoro (RHN), Jumat(30/8/2024).

Oleh karena itu, pada tahun 2024 ditargetkan turun menjadi 8,6 persen. Artinya kita semua harus bekerja keras, bersinergi dan kolaborasi untuk menurunkan angka stunting.

"Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa Percepatan Penurunan Stunting menjadi prioritas pembangunan, yang dituangkan dalam Peraturan Presiden Nomor 72 tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting sehingga perlu adanya strategi," jelasnya.

Adapun strategi pencapaian penurunan Percepatan Penurunan Stunting adalah setiap upaya yang mencakup Intervensi Spesifik dan Intervensi Sensitif, yang dilaksanakan secara konvergen, holistik, integratif, dan berkualitas melalui kerja sama multisektor di pusat, daerah, dan desa.

"Intervensi Spesifik adalah kegiatan yang dilaksanakan untuk mengatasi penyebab langsung terjadinya Stunting, sedangkan Intervensi Sensitif adalah kegiatan yang dilaksanakan untuk mengatasi penyebab tidak langsung terjadinya Stunting," terang Bupati Blitar perempuan pertama ini.

Diungkapkan Mak Rini panggilan Bupati Rini Syarifah ada 11 intervensi spesifik yang dirancang yaitu, skrining anemia, konsumsi tablet tambah darah (TTD) remaja putri, pemeriksaan kehamilan (ANC), konsumsi tablet tambah darah ibu hamil, pemberian makanan tambahan bagi ibu hamil kurang energi kronik (KEK), pemantauan pertumbuhan balita, ASI eksklusif, pemberian MPASI kaya protein hewani bagi Baduta, tata laksana Balita dengan masalah gizi, peningkatan cakupan dan perluasan imunisasi, edukasi remaja ibu hamil dan keluarga termasuk pemicuan bebas buang air besar sembarangan (BABS).

Salah satu kegiatan dalam intervensi spesifik yaitu tata laksana balita bermasalah gizi, yaitu pemberian PMT Lokal pada balita gizi kurang dan pemberian PKMK (Pangan Olahan untuk Keperluan Medis Khusus) pada balita Stunting.

"Akan tetapi pada pelaksanaan pemberian PMT Lokal dan PKMK diperlukan Pendamping, yang memastikan bahwa PMT Lokal dan PKMK tersebut dikonsumsi oleh balita yang bersangkutan," tandasnya.

Sehubungan dengan hal tersebut, melalui Dinkes Kabupaten Blitar mengajak kelompok wanita yakni Muslimat NU, Fatayat NU, Aisyiyah dan Nasyiyatul Aisyiyah di Kabupaten Blitar. Agar bisa membantu dalam mendampingi/berperan serta dalam pengawasan konsumsinya pada balita dan kegiatan lain, yang terkait dengan Upaya Penurunan Prevalensi Stunting pada Balita.

"Maka Dinas Kesehatan menghadirkan inovasi Tali Centing yaitu Kelompok Wanita Peduli Pencegahan Stunting, dimana seluruh organisasi wanita bisa berperan aktif dalam penurunan angka stunting antara lain," kata Mak Rini.

Peran aktif dari empat kelompok wanita tersebut diantaranya, pertama, penggerakan sasaran Balita untuk Hadir di Posyandu jadi turut memastikan semua sasaran hadir di Posyandu.

Kemudian kedua, menentukan Lokasi Balita. Hal ini menggunakan Aplikasi SIGAB (Servis Gawat Darurat Blitar). Ketiga, Pengawasan Konsumsi PKMK oleh balita, jadi balita yang mendapatkan PKMK sesuai advice dari Dokter Spesialis Anak. Serta terakhir, Pengawasan Konsumsi PMT Lokal , terhada Balita Gizi Kurang selama 56 hari sesuai advice dari Puskesmas.

Pada akhir sambutannya, Mak Rini mengajak semua pihak, untuk saling bahu membahu. Karena penurunan stunting tidak bisa setengah-setengah, harus totalitas dengan melibatkan banyak pihak sesuai dengan peran dan fungsinya.

Selanjutnya secara resmi dilakukan Lounching Inovasi Tali Centing, yang dihadiri para kepala OPD jajaran Pemkab Blitar, camat, kepala Puskesmas dan Ketua Muslimat NU, Fatayat NU, Aisyiyah dan Nasyiyatul Aisyiyah di Kabupaten Blitar.

Ditandai dengan penekanan tombol pada aplikasi SIGAB, oleh Bupati Rini, Kadinkes Kabupaten Blitar dr Christine Indrawati dan empat ketua organisasi kelompok wanita.

"Ini sekaligus menandai dimulainya kegiatan Bersama Kelompok Wanita Peduli Stunting, sehingga dapat diketahui oleh masyarakat luas. Dan mari kita semua tetap semangat berjuang untuk mewujudkan Kabupaten Blitar bebas stunting. Generasi sehat, cerdas, Indonesia maju," pungkasnya.

Sementara itu, Kadinkes Kabupaten Blitar, dr Christine Indrawati menambahkan dengan Inovasi TALI CENTING ini diharapkan bisa menekan angka Stunting, sesuai target yang disampaikan Bupati Rini.

Inovasi ini merupakan tindaklanjut dari evaluasi penanganan Stunting, dimana memang ada beberapa hal yang loss atau belum dilakukan.

"Memang perlu kerja keras bersama, oleh karena itu kami dari Dinkes mengajak organisasi kelompok wanita yang ada di Kabupaten Blitar," tuturnya.

Kerja sama dengan kelompok wanita ini ada 3 hal, pertama, mendorong pengerahan Balita melalui ibunya untuk datang ke Posyandu.

"Sehingga tingkat kehadiran Balita di Posyandu bisa neningkat, targetnya bisa 100 persen hadir," paparnya.

Kedua, mapping lokasi dan penyebab Balita Stunting, untuk penyebab dibantu oleh petugas Dinkes dan Puskesmas. Dimana penyebabnya dibagi 3 yaitu pola asuh, kemiskinan dan penyakit bawaan.

Kemudian ketiga, pemantauan Balita Stunting yang memang memerlukan kerjasama dengan banyak orang.

"Pemantauan dilakukan setiap hari, kepada Balita Stunting yang rumahnya dekat dengan ibu-ibu dari kelompok wanita tadi," terang Christine.

Ditambahkan Christine hasil mapping lokasi selama 2 minggu ini, sudah ada sebanyak 488 Balita Stunting. Dengan cara menekan tombol titik lokasi, melalui aplikasi SIGAB yang ditingkatkan menjadi SIPENTING.

"Harapannya kerja sama dalam Inovasi TALI CENTING bisa menurunkan angka Stunting di Kabupaten Blitar sampai satu digit, serta kerja sama ini akan dilakukan selama setahun," imbuhnya.(*)

Reporter: Arief Sukaputra

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.