
SURABAYA (Lenteratoday) – Anggota DPRD Jawa Timur, Adam Rusydi menekankan pentingnya peningkatan literasi digital di kalangan generasi muda, sebagai langkah strategis untuk menangkal penyebaran hoaks dan menjaga kualitas demokrasi pada Pilkada 2024.
Adam melihat bahwa era digital penuh dengan arus informasi yang begitu cepat memerlukan sikap kritis dari kalangan pemuda, khususnya mahasiswa agar mampu memilah mana informasi yang valid dan mana yang menyesatkan.
“Di era digital ini, informasi bisa datang dari mana saja, dan tugas generasi muda adalah memfilter serta menganalisis setiap informasi yang diterima. Jangan sampai terjebak oleh hoaks yang berpotensi merusak demokrasi,” tegas Adam, Kamis(26/09/2024).
Lebih lanjut, Politisi Partai Golkar tersebut menyampaikan ajakan itu sebagai bagian dari upaya menggerakkan pemuda untuk tidak hanya menjadi peserta pasif dalam proses demokrasi, tetapi juga berperan sebagai agen perubahan yang aktif.
Adam menggarisbawahi bahwa generasi muda perlu memanfaatkan media sosial dengan bijak, tidak sekadar untuk berinteraksi, tetapi juga untuk menyebarkan informasi yang edukatif dan valid terkait Pilkada 2024.
Menurutnya, platform digital yang telah menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari pemuda bisa menjadi alat penting dalam menjaga kualitas demokrasi jika digunakan dengan tepat.
Untuk itu, Adam mengapresiasi program Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) yang menyasar pendidikan politik di kalangan pelajar dan mahasiswa. Ia menilai program-program tersebut sangat efektif dalam meningkatkan kesadaran politik generasi muda, terutama dalam menghadapi tantangan informasi digital. Program-program yang bersifat edukatif ini dinilai sangat penting untuk menyiapkan pemuda sebagai pemilih yang cerdas dan kritis.
Adam pun mendukung penuh inisiatif KPU Jawa Timur, yang baru-baru ini meluncurkan Satgas Demokrasi. Satgas tersebut melibatkan ribuan mahasiswa dari berbagai organisasi kepemudaan, seperti GMKI, PMII, HMI, dan GMNI, untuk berperan aktif dalam menjaga kualitas Pilkada, termasuk melawan penyebaran hoaks dan praktik politik uang. Ia menyebut langkah ini sebagai terobosan yang sangat dibutuhkan guna menjaga agar ruang publik, khususnya media sosial, tetap sehat dan terhindar dari informasi yang menyesatkan.
Menurut Adam, mahasiswa yang terlibat dalam Satgas Demokrasi tersebut diharapkan dapat menjadi ujung tombak dalam proses pengawasan digital selama Pilkada berlangsung. Ia percaya bahwa pengkaderan politik yang baik di organisasi ekstra kampus, dapat memperkuat daya tahan pemuda terhadap pengaruh politik yang tidak sehat.
"Generasi muda kita sudah semakin cerdas, dan kita yakin mereka tidak mudah disusupi kepentingan politik tertentu. Dengan proses pengkaderan yang baik di organisasi ekstra kampus, kita optimistis mereka akan mampu memfilter informasi dan berpolitik dengan bijak,” jelasnya.
Selain itu, Adam juga menekankan bahwa partisipasi aktif dalam politik bukan hanya hak yang harus diperjuangkan, tetapi juga merupakan tanggung jawab generasi muda terhadap masa depan bangsa.
Menurutnya Pilkada Jawa Timur 2024 menjadi momentum penting bagi pemuda, untuk berperan lebih dalam menjaga jalannya proses demokrasi yang bersih dan jujur.
“Generasi muda harus memahami bahwa partisipasi mereka bukan hanya hak, tetapi juga tanggung jawab. Masa depan Jawa Timur ada di tangan mereka. Jika mereka bisa menjaga integritas dan menjauhi informasi palsu, saya yakin kita bisa menghadirkan Pilkada yang damai, jujur, dan adil,” pungkasnya.
Reporter: Pradhita/Editor: Ais