05 April 2025

Get In Touch

PBB Menilai Serangan Israel Terhadap UNIFIL Dapat Menjadi Kejahatan Perang

Prajurit pasukan perdamaian PBB di Lebanon atau UNIFIL pada Kamis (11/10/2024) pagi. (Foto: AFP/ANWAR AMRO)
Prajurit pasukan perdamaian PBB di Lebanon atau UNIFIL pada Kamis (11/10/2024) pagi. (Foto: AFP/ANWAR AMRO)

SURABAYA (Lenteratoday) - Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres, dalam sebuah pernyataan menyatakan serangan kepada pasukan penjaga perdamaian merupakan pelanggaran hukum internasional dan bisa jadi kejahatan perang, dikutip dari juru bicaranya Stephane Dujarric pada Minggu malam (13/10/2024).

Seperti yang diketahui pasukan Israel baru-baru ini menyerang Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL). Serangan tersebut melukai sejumlah anggota pasukan penjaga perdamaian di bagian selatan negara Arab tersebut.

"Personel UNIFIL dan sejumlah posisi penempatannya tidak boleh menjadi sasaran," kata Dujarric mengacu pada pasukan internasional yang memakai helm biru tersebut.

Dia menambahkan bahwa dalam insiden sangat mengkhawatirkan yang terjadi pada Minggu, gerbang masuk posisi PBB juga sengaja diterabas oleh kendaraan lapis baja Israel. Setidaknya lima pasukan penjaga perdamaian telah terluka dalam beberapa hari terakhir akibat serangan Israel di Lebanon selatan.

Sebanyak 40 negara yang berkontribusi dalam misi penjaga perdamaian PBB di Lebanon mengeluarkan pernyataan bersama Pada Sabtu (12/10/2024). Mereka mengutuk serangan Israel terhadap misi tersebut dan menyerukan penyelidikan atas insiden yang terjadi.

Spanyol, Prancis dan Italia telah mengecam serangan tersebut sebagai "tidak dapat dibenarkan." Pada Jumat (11/10/2024), Presiden AS Joe Biden juga mengatakan bahwa dia telah mendesak Israel agar berhenti menargetkan pasukan penjaga perdamaian.

Sementara itu, Turki mengatakan serangan Israel terhadap UNIFIL merupakan ekspresi dari kebijakan pendudukan Netanyahu di Lebanon. Peran pasukan penjaga perdamaian PBB sangat penting, terutama mengingat fakta bahwa Israel berupaya memperluas perang di kawasan tersebut, kata Kementerian Luar Negeri Turki.

Turki juga menambahkan bahwa Dewan Keamanan PBB harus mencegah serangan terhadap pasukan yang berafiliasi dengan badan dunia tersebut.

UNIFIL, misi sekitar 9.500 tentara dari berbagai negara yang dibentuk setelah invasi Israel ke Lebanon pada 1978, menuduh militer Israel "sengaja" menembaki posisinya.

Pemimpin Israel Benjamin Netanyahu meminta Guterres pada Minggu (13/10/2024) untuk memindahkan pasukan penjaga perdamaian keluar dari "jalur bahaya", dengan mengeklaim Hizbullah menggunakan UNIFIL sebagai "perisai manusia". UNIFIL telah menolak untuk meninggalkan posisi mereka. (*)

Sumber : Antara | Editor : Lutfiyu Handi

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.