
SURABAYA (Lenteratoday) - Menjalani peran sebagai seorang ibu tak menghalangi langkah Endang Larasati untuk melanjutkan studinya di bidang kebidanan. Ia baru saja menjalani Sumpah Profesi Bidan di Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa).
Perempuan 32 tahun ini, merupakan seorang bidan yang sudah aktif sejak 2010, dan tetap memiliki semangat luar biasa untuk terus belajar dan mengembangkan diri.
Endang mengungkapkan, bekerja dengan hanya bermodalkan ijazah D3 saja tidak cukup. Menurutnya, bidan harus punya pengetahuan yang baik setara sarjana agar keterampilannya lebih luas.
“Peraturan saat ini kan Bidan itu harus lulus setara S1, apalagi kalau mau buka praktek mandiri harus ikut pendidikan profesi. Saya juga merasa kebidanan itu selalu berkembang dan perlu pembaruan pengetahuan dan keterampilan biar bisa memberi pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat,” ungkapnya, Selasa (22/10/2024).
Endang mengaku, perjuangannya untuk menyelesaikan sarjana tidaklah mudah. Ibu anak tiga ini harus pandai mengatur waktu antara kuliah, pekerjaan, dan tanggung jawab keluarga menjadi tantangan tersendiri baginya.
“Yang paling berat itu mengatur waktu. Paginya saya harus bekerja sampai jam tiga, lalu kuliah, dan saat pulang juga kembali jadi ibu rumah tangga. Kalau ada tugas kuliah gitu biasanya saya kerjakan diatas jam 10 malam setelah anak-anak tidur. Walaupun kadang capek, tapi harus dijalani dan saya nikmati dengan penuh syukur,” aku perempuan kelahiran Jember, 21 Juli 1989 itu.
Ia menceritakan bahwa perjuangannya juga tidak luput dari dukungan penuh suaminya, Pri Agung Setiawan.
“Alhamdulillah suami saya sangat kooperatif. Apalagi saat berada di komunitas profesi bidan, saya ditugaskan di madura, suami juga dengan senang hati mengantar. Pun dalam pembagian tugas untuk mendidik anak juga sangat kooperatif,” tuturnya.
Selain itu, dukungan penuh dari tempatnya bekerja juga menjadi semangat tersendiri baginya. Salah satu bentuk dukungan terbesar yang ia terima adalah beasiswa yang diberikan oleh rumah sakit tempat ia bekerja, yang tentunya menjadi keringanan besar baginya.
"Saya sangat bersyukur bisa mendapatkan beasiswa dari rumah sakit tempat saya bekerja untuk melanjutkan studi. Pun jika ada tugas atau keperluan yang mendadak, saya bisa mengkomunikasikan dengan teman-teman kerja untuk membantu bergantian di tempat kerja," ucap Endang penuh syukur.
Kepedulian terhadap perempuan dan bayi merupakan salah satu alasan terbesar mengapa Endang memilih untuk menjadi seorang bidan, profesi yang dijalani dengan penuh cinta dan dedikasi.
Baginya, membantu perempuan melahirkan dan memastikan keselamatan serta kesehatan bayi yang baru lahir adalah wujud nyata dari kecintaannya terhadap dunia kebidanan.
“Saya merasa adanya bidan yang berkompeten dan peduli itu sangat berpengaruh pada kesehatan ibu dan anak. Memberikan rasa aman dan nyaman saat proses kelahiran, dan membantu proses kelahiran itu menjadi motivasi besar saya,” ujarnya penuh semangat.
Dengan segala pengalamannya dan rasa cintanya terhadap profesi ini, Endang merasa profesi ini bukan hanya pekerjaan baginya, melainkan panggilan jiwanya. Ia menunjukkan bahwa tidak pernah ada kata terlambat untuk belajar, dan ilmu pengetahuan adalah bekal terbaik yang bisa diperoleh dalam
menghadapi tantangan masa depan.
“Saya percaya bahwa pendidikan yang berkelanjutan sangat penting untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan, khususnya di bidang kebidanan,” tukasnya. (*)
Reporter: Amanah | Editor : Lutfiyu Handi