04 April 2025

Get In Touch

Godok Skema Pendanaan Proyek BTS, Dishub Bakal Prioritaskan Layanan di Wilayah Perkampungan

Kepala Dishub Kota Malang, Widjaja Saleh Putra. (Santi/Lenteratoday)
Kepala Dishub Kota Malang, Widjaja Saleh Putra. (Santi/Lenteratoday)

MALANG (Lenteratoday) - Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Malang terus menggodok skema pendanaan untuk merealisasikan proyek buy the service (BTS) sebagai upaya transformasi transportasi publik. Meski belum menemukan formula pendanaan yang tepat, Dishub menegaskan wilayah perkampungan direncanakan menjadi prioritas layanan ini.

"Secara administrasi, pengajuan BTS sudah kami sampaikan ke kementerian. Namun, sambil menunggu, kami diarahkan untuk mencari solusi pendanaan alternatif, seperti melalui dana Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (TSP). APBN mungkin masih bisa digunakan, tapi APBD kita saat ini cukup berat," ujar Kepala Dishub Kota Malang, Widjaja Saleh Putra, Jumat (22/11/2024).

Pria yang akrab dengan sapaan Jaya, ini menjelaskan, meskipun penanganan transportasi merupakan kewajiban pemerintah, penggunaan skema pendanaan melalui TSP atau CSR bukan hal yang keliru.

"Tidak semua anggaran harus dikeluarkan pemerintah. Misalnya, kita bisa menganggarkan Rp 10 miliar, dan dari diskusi dengan staf ahli kementerian, setiap mobil atau halte yang dipasangi reklame bisa mendatangkan pendapatan hingga Rp 3 miliar per tahun. Dengan begitu, dana yang dikeluarkan bisa kembali," jelasnya.

Jaya mencontohkan, anggaran Rp 10 miliar tersebut akan dialokasikan untuk pengadaan sekitar 25 unit armada BTS. Mencakup gaji para sopir, BBM, serta keseluruhan operasional. Terlebih di tahun pertama beroperasi nanti, menurutnya layanan BTS akan digratiskan untuk warga.

"Biasanya (penumpang) digratiskan, tahun kedua disubsidi, yang harusnya Rp 5000 jadi cuma Rp 1000. Istilahnya kami membeli layanan, bisa swasta yang menjalankan lalu kami beli layanannya. Tapi kami bisa mengoptimalkan sarpras seperti halte, kendaraan itu sendiri, dan sebagainya," papar Jaya.

Terlepas dari konteks pendanaan, menurutnya BTS dirancang untuk menjangkau wilayah yang selama ini sulit diakses oleh transportasi umum. Salah satu prioritas yakni kawasan perkampungan yang minim trayek.

"Selama ini, kawasan seperti Sawojajar hanya dilalui di Jalan Danau Toba. Sedangkan wilayah di dalamnya tidak terjangkau, sehingga masyarakat cenderung menggunakan kendaraan pribadi," katanya.

Lebih lanjut, menurutnya Dishub Kota Malang juga telah menyusun trayek dan desain rute berdasarkan hasil kajian, dengan fokus pada enam lokasi, terutama yang berada di sekitar kawasan mahasiswa dan perkampungan.

"Sementara ini ada 6 lokasi terutama daerah mahasiswa, gimana caranya kampung-kampung bisa dimasukin layanan ini," tukasnya. (*)

Reporter: Santi Wahyu | Editor : Lutfiyu Handi

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.