
TRENGGALEK (Lenteratoday) – DPRD Trenggalek menerima audiensi dari masyarakat peduli lingkungan terkait pendangkalan Sungai Temon di Desa Ngares, Kecamatan Trenggalek yang diduga akibat material pembangunan Bendungan Bagong. Akibat pendangkalan tersebut, 11 kepala keluarga (KK) di RT 23 terancam kena banjir.
Ketua DPRD Trenggalek, Doding Rahmadi, menjelaskan bahwa warga mengeluhkan kondisi tersebut karena material dari proyek bendungan menyebabkan sungai dangkal. "Warga datang ke sini karena mengeluhkan pendangkalan Sungai Temon yang disebabkan oleh material hasil pengerjaan Bendungan Bagong. Akibatnya, 11 KK di Desa Ngares rawan terdampak banjir saat hujan," ujar Doding Rahmadi, Selasa (26/11/2024).
Masalah ini, menurut Doding, sudah terjadi sejak 2022, dengan kedalaman sungai yang sebelumnya mencapai lima meter kini berkurang drastis. "Dulu, Sungai Temon memiliki kedalaman sekitar lima meter dan bisa digunakan sebagai tempat wisata. Namun, berdasarkan laporan yang kami terima, kedalamannya berkurang drastis akibat timbunan material dari proses pembangunan bendungan," katanya.
Dalam audiensi tersebut, berbagai pihak seperti Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Bendungan Bagong, BBWS Brantas, pemerintah daerah, dan kontraktor hadir untuk membahas solusi. DPRD memberikan tiga rekomendasi penanganan: pengelolaan material pengerjaan (disposal) agar tidak dibuang sembarangan ke sungai, normalisasi Sungai Temon, serta kajian mendalam mengenai dampak jangka panjang bendungan terhadap lingkungan.
Doding menegaskan bahwa DPRD akan terus mengawal permasalahan ini. "Kami berharap pihak terkait segera mengambil tindakan nyata untuk mengatasi permasalahan ini dan meminimalisir dampaknya bagi masyarakat," tutupnya. (*)
Reporter: Herlambang | Editor : Lutfiyu Handi