03 April 2025

Get In Touch

Kekalahan PDIP di Kota Blitar, Kawula Alit: Partai Harus Introspeksi dan Evaluasi

Panglima Kawula Alit, Samanhudi Anwar.
Panglima Kawula Alit, Samanhudi Anwar.

BLITAR (Lenteratoday) - Kekalahan PDI Perjuangan (PDIP) di Kota Blitar yang sudah dikuasai sekitar 24 tahun, mendapat sorotan Ormas Kawula Alit yang selama ini dikenal organisasi sayap partai berlambang banteng moncong putih tersebut.

Hal ini disampaikan Panglima Kawula Alit, Samanhudi Anwar kalau kekalahan PDIP di Kota Blitar, seharusnya menjadi momentum untuk introspeksi dan evaluasi internal partai.

"Karena kekalahan PDIP di Kota Blitar, adalah kekalahan yang mengerikan," ujar Samanhudi, Kamis(28/11/2024).

Menurut Samanhudi yang pernah menjadi politisi PDIP sejak jaman Pro Mega ini, kalau partai besutan Megawati Soekarnoputri ini sudah tidak sesuai dengan roh partai.

"Jadi perlu adanya introspeksi dan evaluasi partai secara keseluruhan, mulai dari kepengurusan, kader sampai sistemnya," jelas Samanhudi.

Introspeksi partai maksudnya, seluruh pengurus dan kader harus patuh dan melaksanakan hasil Kongres sebagai keputusan tertinggi partai.

"Salah satunya, Kongres memutuskan mengutamakan kader dalam Pemilu dan Pilkada. Tapi kenyataan dilapangan tidak demikian, yang bukan kader juga tetap diusung," tandasnya.

Kemudian pengurus dan kader, harus kembali ke roh partai yaitu berjuang untuk rakyat. Mendengar aspirasi rakyat, dengan turun langsung untuk memberikan solusi.

"Kalau sekarang, coba di cek apakah benar pengurus dan kader partai turun ke bawah ke masyarakat," tegas mantan Wali Kota Blitar dua periode ini.

Mengenai evaluasi partai, diungkapkan Samanhudi
terkait dengan kekalahan PDIP pada Pilkada 2024 di Kota Blitar. Julukan Kota Blitar sebagai Bumi Bung Karno atau Bumi Proklamator, menjadi gengsi dan indikator bagi partai PDIP.

"Akan berdampak terhadap PDIP, mulai tingkat lokal sampai nasional. Karena disinilah (Kota Blitar) roh PDIP," tambahnya.

Seperti diketahui, pada Pilkada Kota Blitar 2024 ini, pasangan calon Bambang Rianto dan Bayu Setyo Kuncoro yang diusung PDIP, PPP, Gerindra dan Golkar hanya meraih 46 persen suara. Kalah oleh pasangan Syauqul Muhibbin-Elim Tyu Samba yang diusung PKB, PAN dan Demokrat dengan 54 persen suara berdasarkan hasil hitung cepat sementara tim internal.

Reporter: Ais/Editor: Arief Sukaputra

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.