Bupati Hanindhito Jamin Kebutuhan Sekolah dan Hidup Korban Selamat Pembunuhan di Ngancar juga Pendampingan Psikolog

KEDIRI (Lenteratoday) - Bupati Kediri, Hanindhito Himawan Pramana turun tangan untuk korban selamat kasus pembunuhan satu keluarga di Dusun Gondang Legi, Desa Pandantoyo, Kecamatan Ngancar.
Bupati yang akrab disapa Mas Dhito ini memberikan pendampingan kepada Samuel Putra Yordaniel (10), satu-satunya korban selamat pada kejadian sadis tersebut.
Putra bungsu suami istri Agus Komarudin (38), dan Kristina (37) korban pembunuhan sadis saat ini menjalani perawatan medis di RS Bhayangkara Kediri. Informasi terakhir kondisinya mulai membaik.
Mas Dhito usai menjenguk ke rumah sakit dan berkomunikasi dengan pihak dokter menyebut pihaknya bakal memberikan trauma healing bagi korban.
"Karena bagaimanapun si adik ini menyaksikan langsung kejadian dimana terjadi pembunuhan terhadap kedua orangtua dan kakaknya," katanya, Minggu(8/12/2024).
Kondisi korban Samuel, menurut Mas Dhito secara fisik dalam kondisi stabil, hanya saja secara mental masih dalam kondisi trauma. Dalam kondisi itu saat di rumah sakit dia pun hanya bisa melihat korban dari luar kamar.
Pemkab Kediri, lanjut Mas Dhito akan memastikan korban Samuel bisa tumbuh kembang seperti anak-anak lain. Untuk itu, tindakan pertama yang dilakukan yakni memberikan pendampingan psikolog untuk pemulihan mental korban.
"Termasuk untuk kebutuhan sekolah, kebutuhan untuk hidup dan sebagainya nanti kita yang tanggung," ungkapnya.
Dalam kunjungannya ke rumah sakit itu, Mas Dhito juga berkomunikasi dengan pihak keluarga korban Samuel untuk memastikan siapa nanti yang akan mengasuh.
Sebab akibat insiden pembunuhan yang terjadi pada, Rabu(4/12/2024) pagi itu, Samuel yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) itu menjadi yatim piatu.
"Kemungkinan besar keluarga dari pihak bapaknya yang akan merawat," bebernya.
Sementara itu, Kepala RS Bhayangkara, Kombes Pol Agung Hadi Wijanarko menambahkan kondisi korban sudah membaik. Pendarahan pada bagian kepala akibatnya benda tumpul telah tertangani.
Secara psikologis, diterangkan, korban yang diduga telah melihat dan mendengar langsung kejadian yang menimpa keluarganya hal itu terekam dalam memori.
"Sehingga dia merasa kalau bertemu orang baru merasa ketakutan," terangnya.
Selama di rumah sakit, selain penanganan untuk penyembuhan secara fisik, untuk pemilihan kondisi psikologi korban, diakui pihak rumah sakit juga menyediakan psikiater untuk melakukan pendampingan.
Sebagaimana diketahui, dalam kasus pembunuhan satu keluarga itu terdapat tiga orang yang meninggal. Mereka kedua orang tua Samuel yakni Agus Komarudin (38), dan Kristina (37) serta Christian Agusta Wiratmaja Putra (12) kakak kandungnya.(pkp/*)
Reporter: Gatot Sunarko