
JOMBANG (Lenteratoday) - Pengungsi imbas banjir luapan Afvour Watudakon di Dusun Beluk, Desa Jombok, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang, mengaku sudah mulai terserang penyakit kulit, dan masalah kesehatan lainnya.
Di antaranya gatal-gatal, kepala pening, hingga darah tinggi. Diperoleh informasi, seorang pengungsi sempat pingsan.
Penanggung jawab Posko Penanganan Darurat Bencana Kabupaten Jombang, Senopati Zainudin, mengatakan, banjir yang merendam wilayah Dusun Beluk, Desa Jombok, sudah memasuki hari keenam.
Beberapa warga di pengungsian mulai mengeluhkan masalah kesehatan.
”Kemarin sempat ada warga yang pingsan karena semalam tidak tidur akibat rumahnya kebanjiran. Sudah dievakuasi dan sudah tertangani. Pengungsi yang pingsan sudah membaik dan berkumpul dengan keluarga,” ungkap Senopati Zainudin, Kamis (12/12/2024).
Hariati (42), warga Dusun Beluk, Desa Jombok, mengaku setelah enam hari hidup di tengah kepungan banjir, mulai mengalami gejala gatal-gatal, terutama di bagian kaki dan tangan. ”Gatal-gatal kaki dan tangan,” kata Hariati.
Dia lantas menunjukkan, kakinya yang muncul seperti kutu air. Di tangannya juga mulai bermunculan bintik-bintik merah. Saat ini ia bersama anggota keluarganya mengungsi di masjid setempat.
”Untuk bantuan makan sudah dapat, tapi obat-obatan belum ada,” imbuh dia. Hariati resah lantaran sampai saat ini banjir tak kunjung surut.
Air di dalam rumahnya sudah mencapai ketinggian 1,5 meter sehingga tidak mungkin lagi ditinggali.
Hal serupa juga diungkapkan Suwoto, pengungsi lain. Saat ini merasakan keluhan penyakit kulit dan pusing. ”Gatal di kaki dan pusing,” sambung Suwoto.
Petugas kesehatan sendiri sudah tiba di lokasi masjid yang kini jadi tempat pengungsian warga terdampak. Mereka melakukan pemeriksaan kesehatan kepada warga.
”Jadi sebagian yang kami temukan itu hipertensi atau darah tinggi. Faktornya kelelahan, karena tidak tidur lama serta hilir-mudik menyelamatkan barang berharga, diri dan kerabatnya,” ujar dr Fery Eko, dokter dari Kodim 0814 Jombang.
Begitu juga dengan penyakit kulit, menurut Fery, banyak warga mengeluhkan gatal-gatal. Angkanya mencapai ratusan. ”Kebanyakan penyakit kulit, gatal di kaki dan tangan,” tutur dia.
Pihaknya tetap melakukan koordinasi dengan Dinas Kesehatan Jombang dan stakeholder terkait. ”Untuk melengkapi obat-obatan, serta menambah tenaga, sehingga pelayanan bisa maksimal,” ujar Fery.
Namun Ferry menyatakan hingga kini belum ada laporan ada warga yang harus dilarikan ke puskesmas maupun rumah sakit terdekat. "Masih bisa ditangani di posko dan belum ada yang urgen,” papar dia.
Posko kesehatan sendiri dibuka hingga banjir wilayah setempat benar-benar surut. ”Kita mengikuti BPBD selaku pemerintah daerah. Ketika belum surut posko kesehatan tetap dibuka,” ujar Fery.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Jombang dr Hexawan Tjahya Widada menyatakan pihaknya sudah menurunkan tenaga untuk memberikan pelayanan kesehatan bagi warga terdampak banjir.
Di Kecamatan Kesamben misalnya, memang ada puluhan warga mengeluhkan berbagai penyakit.
”Paling banyak gatal-gatal, laporan kami terima total ada 22 orang,” kata Hexa. Namun untuk hipertensi, menurut Hexa, masih nihil. "Belum ada yang terkena hipertensi," imbuhnya.
Reporter: sutono|Editor: Arifin BH