
MALANG (Lenteratoday) - Universitas Brawijaya (UB) berhasil menduduki peringkat ke-7 di Indonesia dalam QS Sustainability Ranking 2025. Peringkat ini dipacu oleh keberhasilan UB dalam dua indikator utama, yakni tata kelola yang efektif dan kolaborasi riset yang berdampak kepada masyarakat secara luas.
Rektor UB, Prof. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D.Med.Sc., menyampaikan hasil ini merupakan buah kerja keras seluruh sivitas akademika. "Peningkatan ini adalah bukti nyata dedikasi UB dalam membangun institusi yang tidak hanya berfokus pada pendidikan dan penelitian, tetapi juga memiliki dampak luas bagi masyarakat dan lingkungan,” ujar Prof. Widodo, Jumat (13/12/2024).
Untuk diketahui, QS Sustainability Ranking menilai universitas berdasarkan tiga kategori utama, yakni dampak lingkungan, sosial, dan tata kelola. Dalam pemeringkatan yang dirilis pada Selasa (10/12/2024) kemarin, UB berhasil menempati peringkat ke-653 dunia dari 1.744 institusi, dan peringkat ke-7 di Indonesia. Menurut Prof. Widodo, capaian tersebut menunjukkan peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya.
"Dalam kategori tata kelola (governance), UB mencatatkan skor tertinggi dengan 88,9 dan berada di peringkat ke-179 dunia. Aspek ini menilai transparansi keputusan, etika organisasi, dan representasi mahasiswa dalam pengambilan keputusan," tambahnya.
Lebih lanjut, pertukaran pengetahuan (knowledge exchange) juga menjadi indikator lain yang berpengaruh dalam peningkatan ranking UB. Prof. Widodo menyebutkan, UB berhasil meraih skor 72,6 dan menempati peringkat ke-567 dunia, yang menunjukan kontribusi UB dalam membangun kolaborasi riset dan dampaknya terhadap masyarakat.
Tak hanya itu, UB juga mencatatkan hasil positif di indikator pendidikan lingkungan, kesetaraan, kesempatan kerja, dan keberlanjutan lingkungan. Di kategori pendidikan lingkungan, UB berada di peringkat ke-348 dunia, sedangkan dalam keberlanjutan lingkungan, UB menempati peringkat ke-699 dunia.
"Capaian ini memberikan motivasi bagi kami untuk terus berinovasi dan berkolaborasi dalam mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs)," tutup Prof. Widodo. (*)
Reporter: Santi Wahyu | Editor : Lutfiyu Handi