
MALANG (Lenteratoday) - Pemerintah Kota (Pemkot) Malang menyiapkan strategi, untuk mengendalikan harga kebutuhan pokok menjelang Natal 2024 dan Tahun Baru (Nataru) 2025.
Melalui inovasi jangka pendek hingga jangka panjang, seperti Sekolah Peduli Inflasi dan Gerakan Sosial Terpadu (Ngalam Gesit), Pemkot Malang berupaya menjaga stabilitas harga komoditas yang rawan memicu inflasi.
"Sampai hari ini angka inflasi kita alhamdulillah masih terkendali, years on years (YoY) itu 1,22 persen. Kemudian month to month (MtM)nya di angka 0,24 persen. Karena kalau kita lihat data, di November 2023 lalu inflasi kita di angka 2,94 persen. Jadi kinerja kawan-kawan TPID dan stakeholder patut diapresiasi, ujar Iwan, Selasa(17/12/2024).
Namun demikian, Iwan mengingatkan agar seluruh pihak tetap waspada terhadap potensi lonjakan harga, terutama pada komoditas seperti cabai rawit, cabai merah besar, telur ayam ras, daging ayam ras, dan daging sapi.
"Kita tidak boleh lengah. Gejolak harga pada periode Nataru ini harus diantisipasi dengan langkah konkret, baik jangka pendek maupun jangka panjang,” tegasnya.
Dalam upaya jangka pendek, Pemkot Malang mengandalkan sejumlah program unggulan dari Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID). Salah satunya yaitu Sekolah Peduli Inflasi, yang diharapkan mampu meningkatkan kesadaran terhadap pengendalian inflasi melalui edukasi.
Selain itu, Iwan juga mendorong pelaksanaan Kantor Peduli Inflasi serta program Sepasar Pedas, yang harus dikolaborasikan dengan meningkatkan literasi inflasi untuk para pedagang di pasar rakyat.
"Ketiga inovasi ini perlu diimplementasikan dengan baik dalam jangka panjang dan perlu lagi langkah konkret yang perlu dilakukan oleh stakeholder di Kota Malang," tambahnya.
Lebih lanjut, untuk langkah jangka panjang, Iwan menyampaikan, Pemkot Malang telah menyusun roadmap 2025–2029 yang menjadi pedoman strategis dalam pengendalian inflasi. Roadmap ini mencakup berbagai inovasi, sambungnya, salah satunya kolaborasi dengan Kodim 0833 yang melibatkan penanaman cabai untuk mencukupi kebutuhan masyarakat.
"Hasil panen cabai ini kemudian diberikan kepada warga yang membutuhkan sebagai bagian dari upaya menjaga pasokan dan menstabilkan harga," paparnya.
Tak hanya itu, menurutnya Pemkot juga akan mengintegrasikan program Ngalam Gesit (Gerakan Sosial Terpadu) yang tidak hanya fokus pada pengendalian inflasi, tetapi juga mengatasi masalah kemiskinan, stunting, serta pemberian sembako murah, bansos, dan beasiswa pendidikan.
"Program ini adalah langkah terpadu untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Jika masyarakat sejahtera, daya beli stabil, inflasi juga lebih mudah dikendalikan,” tutup Iwan.
Reporter: Santi Wahyu/Editor: Ais