03 April 2025

Get In Touch

Awal Tahun, Dispangtan Temukan 12 Kasus Baru PMK di Kota Malang

Pemeriksaan hewan ternak di Kota Malang oleh Dispangtan.(foto:ist/dok.Dispangtan Kota Malang)
Pemeriksaan hewan ternak di Kota Malang oleh Dispangtan.(foto:ist/dok.Dispangtan Kota Malang)

MALANG (Lenteratoday) - Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Dispangtan) Kota Malang temukan peningkatan kasus ternak sapi yang terjangkit penyakit mulut dan kuku (PMK) sebanyak 12 ekor di pekan pertama Januari 2025 ini, meskipun belum ada laporan ternak yang mati.

Sebelumnya, di Desember 2024 lalu, Dispangtan Kota Malang mencatat ada sebanyak 25 ekor sapi yang positif kasus PMK terlaporkan di sistem informasi kesehatan hewan nasional (iSIKHNAS).

"Ya memang ada peningkatan, karena ada beberapa peternak yang memasukkan (hewan ternak dari luar kota). Terindikasi di awal Januari sampai dengan hari ini ada kasus baru 12 ekor sapi. Ini masih proses pengobatan, karena gejala awal," ujar Kabid Peternakan dan Kesehatan Hewan Dispangtan Kota Malang, Anton Pramujiono, Selasa(7/1/2025).

Anton menambahkan mayoritas kasus baru ditemukan di wilayah Purwantoro, Kecamatan Blimbing yang menjadi salah satu pusat penggemukan sapi potong di Kota Malang. Namun ditegaskannya kasus yang terdeteksi masih bersifat ringan, dan dapat diatasi dengan pengobatan sejak diketahui gejalan awal PMK.

Tak hanya itu, sebagai langkah pencegahan, Dispangtan juga telah mengimbau peternak untuk tidak mendatangkan sapi baru sementara waktu.

“Jika mendatangkan sapi baru, sebaiknya ditempatkan di kandang terpisah agar tidak menulari ternak yang lain," kata Anton.

Lebih lanjut, Anton menjelaskan pihaknya juga terus melakukan pemantauan di sejumlah kecamatan. Mulai dari Kedungkandang dan Sukun, sejauh ini menurutnya belum ditemukan kasus PMK baru di 2 kecamatan tersebut.

"Kita sekarang masih memantau di Kecamatan Lowokwaru, karena di sana belum kami lakukan pemantauan. Kemarin sudah kami lakukan di Kecamatan Sukun, alhamdulillah gak ada kasus, kemudian di Kedungkandang juga gak ada. Hanya di Kecamatan Blimbing Kelurahan Purwantoro, itu yang sementara ini," jelasnya.

Dalam kesempatannya ini, Anton juga mengakui vaksinasi dibutuhkan untuk mengoptimalkan pencegahan penyebaran PMK lebih luas. Namun, menurutnya hingga saat ini belum ada pengadaan vaksin dalam APBD 2025 Kota Malang. Anton mengatakan pengadaan vaksin PMK, masih menunggu dukungan dari pemerintah pusat dan provinsi.

"Cuma karena ada kasus yang sekunder, itu yang kita tangani dengan membagikan disinfektan, obat cacing dan vitamin. Supaya kekebalan tubuh ternaknya meningkat sehingga virus dapat teratasi tidak menyebar ke tempat atau ternak yang lainnya. Sekarang ini mungkin provinsi masih fokus menangani di beberapa kabupaten. Kota kemungkinan menjadi prioritas berikutnya,” ungkap Anton.

Mengakhiri pernyataannya, Anton mengimbau peternak untuk selalu menjaga kebersihan kandang dengan penyemprotan disinfektan serta memberikan asupan tambahan, untuk meningkatkan daya tahan tubuh ternak.

“Kalau vitaminnya habis mungkin bisa diberikan ramuan dari lengkuas, kunyit, dan sebagainya untuk daya tahan tubuh ternak," pungkasnya.

Reporter: Santi Wahyu/Editor: Ais

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.