05 April 2025

Get In Touch

Asa Peternak Ngawi Obati Sapi Terkena PMK

Salah satu sapi milik Sugeng Purnomo, peternak Ngawi yang terkena PMK. (Sugeng for Lenteratoday).
Salah satu sapi milik Sugeng Purnomo, peternak Ngawi yang terkena PMK. (Sugeng for Lenteratoday).

NGAWI (Lenteratoday) - Penyakit mulut dan kuku (PMK) menggentayangi peternak sapi di Kabupaten Ngawi. Ratusan sapi dilaporkan telah terjangkit virus yang menyerang kekebalan tubuh hewan berkuku ganda tersebut.

Banyak peternak sapi di Kabupaten Ngawi yang akhirnya kalah. Memilih menyerah dengan menjual sapi dengan harga murah. Atau pasrah menunggu ajal hewan ternaknya terenggut PMK. Hingga kini, puluhan sapi di Ngawi di laporkan mati akibat terpapar PMK.

Sebagian peternak sapi di Ngawi memilih bertahan dari gempuran virus PMK. Tetap mengobarkan asa di tengah "pageblug" ternak sapi. Ada yang mengandalkan vaksin mandiri, atau mengobati sapi yang sakit terpapar PMK.

Sugeng Purnomo, warga Desa Sekarjati, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Ngawi, satu di antara peternak yang memilih terus bertahan. Saat ini, dia tengah merawat tiga ekor sapi yang terpapar virus PMK.

"Tiga ekor yang proses penyembuhan. Sapi jenis metal (simental) dan limosin," kata Sugeng, Selasa (7/1/2025).

Dalam merawat sapi yang terkena PMK, Sugeng memiliki caranya sendiri. Untuk sapi yang sudah parah, tidak mau makan rumput, maka dibuatkan bubur khusus. Bubur itu terbuat dari dedak gandum atau polar, dicampur gula merah dan garam. Bubur dedak itu diberikan ke sapi tiap dua jam sekali.

Selain itu, Sugeng juga mengandalkan jamu tradisional yang terbuat dari empon-empon. Yakni kuyit, sereh, temu hitam, dan jenis tanaman rimpang lainnya.

"Diberikan setiap pagi dan sore hari," jelasnya.

Sugeng mengaku juga mengandalkan pengobatan secara medis. Sapi miliknya juga diberikan injeksi vitamin dari dokter hewan setempat. Harapannya, agar kekebalan daya tahan tubuh sapi meningkat.

PMK 2024 Lebih Ganas

Penyakit mulut dan kuku di tahun 2024 yang menyerang ternak sapi, diakui oleh Sugeng lebih ganas ketimbang wabah yang sama di tahun 2022. Sugeng mengira, jumlah sapi di Kecamatan Karanganyar saat ini tinggal 10 persen, dibanding sebelum adanya PMK.

Di samping itu, ketakutan para peternak untuk merawat sapi sakit, serta kekhawatiran rugi besar, banyak peternak yang akhirnya menjual peliharaannya.

"Mungkin sisa 10 persen. PMK tahun ini sangat ganas. Peternak takut merawat, mungkin gugup. Karena perawatan yang sulit banyak yang dijual," katanya.

Kepada para peternak sapi yang belum terkena PMK, Sugeng mengimbau agar memberikan injeksi vitamin. Itu agar sapi memiliki kekebalan dari virus. Termasuk menjaga kebersihan kandang dan menyemprotkan disinfektan.

"Kebersihan kandang itu penting, dan jangan lupa menyemprotkan disinfektan," pungkas Sugeng Purnomo, salah satu peternak sapi di Kabupaten Ngawi.

Anggota Komisi IV DPR RI, Hindun Anisah, mengatakan wabah PMK kembali merebak di Indonesia. Jenis wabah yang menyerang hewan berkuku belah seperti sapi, babi, kerbau, hingga domba ini mengalami lonjakan kasus sejak awal Desember 2024 lalu. Hingga saat ini, total kasus PMK yang telah dilaporkan mencapai 8.483 kasus dengan jumlah kematian 223 kasus, dan pemotongan paksa sebanyak 73 kasus. Data tersebut tersebar di 9 provinsi, termasuk Jawa Tengah dan Jawa Timur. (*)

Reporter: Miftakul FM | Editor : Lutfiyu Handi

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.