04 April 2025

Get In Touch

Arkeolog : Piramida di Gunung Padang Bukan Buatan Manusia

Situs Gunung Padang di Jawa Barat (Foto: Arkeonews)
Situs Gunung Padang di Jawa Barat (Foto: Arkeonews)

JAKARTA (Lenteratoday) - Banyak yang mengira bahwa piramida tertua yang ada di dunia berasal dari Mesir, karena terkenal dengan banyaknya piramida yang ada di sana. Guinness World Records pun secara resmi menobatkan piramida Djoser Step di Mesir yang dibangun pada 2.630 SM, sebagai piramida tertua di dunia.

Namun, sebuah jurnal penelitian yang diterbitkan pada Oktober mengklaim bahwa terdapat piramida yang dibangun jauh lebih lama daripada piramida Djoser Step.

Dalam jurnal Archaeological Prospection menyatakan bahwa lapisan piramida yang terletak di bawah situs prasejarah Gunung Padang yang berada di Cianjur, Jawa Barat diperkirakan telah dibangun sejak 25.000 SM.

Dengan klaim tersebut membuktikan bahwa piramida Gunung Padang jauh lebih tua dibanding piramida Djoser Step yang terletak di Mesir dan Göbekli Tepe, situs prasejarah di Turki yang dibangun antara 9.600 dan 8.200 SM.

Hal ini tentunya menimbulkan keraguan bagi banyak peneliti. Keraguan yang muncul ini terkait dengan struktur piramida yang berada di Gunung Padang. Para peneliti meragukan terkait struktur piramida tersebut yang diklaim bahwa dibuat oleh manusia pada puluhan ribu tahun yang lalu.

Jurnal Archaeological Prospection diterbitkan dari penelitian yang dilakukan sekaligus dipimpin oleh Danny Hilman Natawidjaja dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui usia dan struktur piramida di Gunung Padang.

Pada jurnal ini diklaim bahwa piramida ini di Gunung Padang memiliki usia 27.000 tahun. Namun, pada jurnal ini juga, terdapat bukti-bukti hasil penelitian yang memperlemah klaim tersebut karena struktur yang ada pada piramida tersebut.

Para akademisi yang turut serta dalam penelitian itu menulis bahwa “Inti piramida terdiri dari lava andesit masif yang dipahat dengan cermat” dan bahwa “konstruksi tertua” dari piramida “kemungkinan berasal dari bukit lava alami sebelum dipahat dan kemudian diselimuti secara arsitektural”.

Dilanjutkan dengan pernyataan bahwa “Studi ini menjelaskan keterampilan tukang batu tingkat tinggi dari periode glasial terakhir. Temuan ini menantang keyakinan konvensional bahwa peradaban manusia dan perkembangan teknik konstruksi yang canggih baru muncul seiring dengan munculnya pertanian sekitar 11.000 tahun yang lalu.

Para akademisi juga mengklaim bahwa para manusia yang membangun “pasti memiliki kemampuan pembuatan batu yang luar biasa”.

“Bukti dari Gunung Padang dan situs lain, seperti Gobekli Tepe (di Turki), menunjukkan bahwa praktik konstruksi yang maju sudah ada ketika pertanian, mungkin, belum ditemukan,” demikian penjelasan lanjutan dari akademisi pada jurnal ini, sebagaimana dilansir Indy100.

Hal ini tentunya menarik perhatian banyak peneliti lain untuk mengomentari hingga mengkritik penelitian ini. Flint Dibble, dari Universitas Cardiff, mengatakan kepada jurnal Nature bahwa tidak ada bukti jelas yang menunjukkan bahwa lapisan yang terkubur itu dibuat oleh manusia.

“Bahan yang menggelinding menuruni bukit, rata-rata, akan mengorientasikan dirinya sendiri,” katanya Flint. Dia menambahkan bahwa tidak ada bukti “pekerjaan atau apa pun yang menunjukkan bahwa itu adalah buatan manusia”.

Sementara itu, Bill Farley, seorang arkeolog di Southern Connecticut State University, mengatakan “sampel tanah berusia 27.000 tahun dari Gunung Padang, meskipun diberi tanggal secara akurat, tidak menunjukkan tanda-tanda aktivitas manusia, seperti arang atau pecahan tulang”.

Menanggapi beberapa kritik yang ditujukan kepada hasil penelitian yang dipimpinnya, Natawidjaja mengatakan “kami sangat terbuka bagi para peneliti di seluruh dunia yang ingin datang ke Indonesia dan melakukan program penelitian di Gunung Padang”.

Co-Editor: Nei-Dya/berbagai sumber

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.