
SURABAYA (Lenteratoday) - Biaya pendakian ke puncak tertinggi dunia Gunung Everest naik. Pemerintah Nepal menerapkan kenaikan sebesar 36 persen, sehingga yang pada awalnya USD11.000 atau setara dengan Rp 178 juta, naik menjadi USD 15.000 atau setara dengan Rp 243 juta.
Kebijakan ini diumumkan oleh Direktur Jenderal Pariwisata Nepal, Narayan Prasad Regmi, yang juga berharap kenaikan biaya dapat memberikan pendapatan signifikan bagi negara. Terlebih pendapatan Nepal memang sangat bergantung pada sektor wisata pendakian gunung.
“Royalti (biaya izin) belum ditinjau untuk waktu yang lama. Kami telah memperbaruinya sekarang,” kata Regmi, dikutip dari VOI, Jumat (24/1/2025).
Kenaikan biaya izin pendakian Gunung Everest ini berlaku untuk pendaki yang ingin mencapai puncak gunung, setinggi 8.849 meter atau 29.032 kaki. Biaya izin pendakian yang baru ini akan diterapkan mulai September 2025 mendatang.
Selain itu, kenaikan biaya juga diterapkan di waktu pendakian yang populer yakni pada bulan April hingga Mei. Terutama untuk rute pendakian South East Ridge standar atau South Col, yang dikenal sebagai jalur yang pertama kali dilalui oleh Sir Endmund Hillary dari Selandia Baru dan Sherpa Tenzing Norgay pada 1953 lalu.
Selain itu, biaya untuk musim pendakian kurang populer seperti September sampai November, dan musim dingin Desember sampai Februari juga akan mengalami kenaikan. Biaya izin di musik tersebut naiknya hanya menjadi 7.500 dolar AS dan 3.750 dolar AS untuk masing-masing rute populer di atas.
Dilansir dari CNNIndonesia, Jumat (24/1/2025, pendapatan dari biaya izin dan pengeluaran lain oleh pendaki asing merupakan sumber pendapatan dan lapangan kerja utama bagi Nepal. Negara tersebut memiliki delapan dari 14 gunung tertinggi di dunia, termasuk Everest.
Meski ada kenaikan biaya, namun beberapa penyelenggara ekspedisi mengatakan kenaikan tersebut tidak membuat pendaki patah semangat. Sekitar 300 izin dikeluarkan setiap tahun untuk Everest.
"Kami sudah memperkirakan kenaikan biaya izin ini," kata Lukas Furtenbach dari penyelenggara ekspedisi yang berbasis di Austria, Furtenbach Adventures.
Ia mengatakan bahwa kenaikan ini dapat dimengerti oleh para pendaki. "Saya yakin dana tambahan itu akan digunakan untuk melindungi lingkungan dan meningkatkan keselamatan di Everest," kata Furtenbach.
Ratusan pendaki mencoba mendaki gunung tertinggi dan beberapa puncak Himalaya lainnya setiap tahun. Nepal sering dikritik oleh para ahli pendakian gunung karena mengizinkan terlalu banyak pendaki di Everest tapi kurang menjaga kebersihannya atau memastikan keselamatan pendaki. Namun, Regmi mengatakan kampanye pembersihan diselenggarakan untuk mengumpulkan sampah dan pemasangan tali serta tindakan keselamatan lainnya dilakukan secara teratur.
Para pendaki yang kembali dari Everest mengatakan gunung tersebut menjadi semakin kering dan berbatu dengan lebih sedikit salju atau curah hujan lainnya. Menurut para ahli, hal itu dapat disebabkan oleh pemanasan global atau perubahan lingkungan lainnya. (*)
Editor : Lutfiyu Handi