
JAKARTA (Lenteratoday) - Ribuan warga Palestina menunjukkan keberanian luar biasa dengan kembali ke rumah mereka di bagian utara Gaza, meskipun tantangan besar menghadang. Di tengah kehancuran akibat perang berkepanjangan dan ketidakpastian masa depan, semangat untuk membangun kembali tetap membara.
Pembukaan Koridor Netzarim oleh pasukan Israel memungkinkan lebih dari 300.000 warga yang mengungsi melintasi perbatasan dari selatan ke utara. Kembalinya warga Palestina menjadi simbol keteguhan dan kecintaan pada tanah air, meskipun banyak yang harus kembali ke rumah yang telah rata dengan tanah.
“Ini adalah hari terbahagia dalam hidup saya. Saya merasa jiwa dan kehidupan saya kembali,” ungkap Lamees al-Iwady, seorang perempuan berusia 22 tahun yang kembali ke Kota Gaza. Semangat juangnya tercermin dari niat untuk membangun kembali rumahnya, meskipun dengan bahan sederhana seperti tanah dan pasir.
Namun, perjalanan kembali ke utara bukan tanpa risiko. Dalam sebuah insiden tragis, seorang anak berusia lima tahun, Nadia Mohammed al-Amoudi, tewas akibat serangan yang melanda kereta kuda di al-Jisr, dekat kamp pengungsi Nuseirat. Tiga orang lainnya juga terluka dalam serangan tersebut. Di tempat lain, seorang nelayan dan warga sipil turut menjadi korban serangan yang terjadi di tengah upaya gencatan senjata.
Harapan yang Kuat
Meski kehancuran menyelimuti wilayah utara, warga Palestina tetap bertahan dengan harapan besar. Di Jalan Salah al-Din, ribuan orang rela menunggu dalam antrean panjang selama berjam-jam untuk kembali ke rumah mereka. Hani Mahmoud, reporter Al Jazeera, melaporkan bahwa banyak warga mendapati rumah mereka telah hancur lebur tanpa fasilitas dasar untuk bertahan hidup.
Namun, hal ini tidak menyurutkan semangat mereka. “Kami tahu rumah kami telah rata dengan tanah, tapi ini adalah tanah air kami. Kami akan membangunnya kembali, apa pun yang terjadi,” tegas salah satu warga.
Tantangan terbesar yang kini dihadapi adalah penyediaan tempat tinggal sementara dan kebutuhan dasar. Pemerintah Gaza memperkirakan dibutuhkan lebih dari 135.000 tenda dan karavan untuk keluarga yang kembali. Selain itu, antrean panjang untuk mendapatkan kebutuhan pokok seperti roti juga menjadi pemandangan sehari-hari.
Kembalinya warga Palestina ke Gaza menjadi pengingat bagi dunia internasional tentang perlunya solidaritas dan bantuan kemanusiaan. Kerusakan yang meluas, dikombinasikan dengan kondisi yang serba kekurangan, menuntut perhatian serius dari lembaga bantuan dan negara-negara pendukung.
Sumber : Al Jazeera | Editor : M. Kamali