03 April 2025

Get In Touch

Telkom University Surabaya Buat Sistem Budidaya Ketahanan Kepiting Berbasis IoT

Direktur Telkom University Surabaya, Prof Tri Arief Sardjono (kanan) saat menunjukkan Smart Crabs House. (Amanah/Lentera)
Direktur Telkom University Surabaya, Prof Tri Arief Sardjono (kanan) saat menunjukkan Smart Crabs House. (Amanah/Lentera)

SURABAYA (Lentera)- Telkom University Surabaya meluncurkan inovasi Smart Urban Farming di bidang perikanan. Kali ini, berupa Smart Crabs House, budidaya kepiting dengan monitoring berbasis Internet Of Things (IoT). 

Salah satu tim peneliti interest COE Muhammad Dwi Haryanto, mengatakan dalam pengembangan Smart Crab House ini, pihaknya fokus dalam mengembangkan berat dan ukuran kepiting dengan memanfaatkan monitoring air berbasis IoT. 

Ia menuturkan, latar belakang pembuatan inovasi ini karena dalam budidaya kepiting menghadapi tantangan besar, terutama dalam pemantauan kualitas air yang masih dilakukan manual. 

Menurutnya, keterlambatan mendeteksi perubahan lingkungan dapat menyebabkan penurunan kualitas hidup kepiting, meningkatkan resiko kematian dan menghambat produktivitas. 

"Selain menggunakan IoT pada aquarium, kita juga lengkapi dengan sensor oksigen terlarut, dan TDS meter untuk mengukur kualitas air untuk menjaga kesehatan kepiting" kata Dwi, Rabu (2/4/2025).

Ia menjelaskan, penggunaan TDS meter bertujuan untuk memberikan informasi kadar garam kepiting. Sebab, kepiting hanya membutuhkan kadar garam 15-20 ppm. "Jika lebih dari itu kepiting tidak bisa tumbuh hingga berakibat mati," jelasnya.

Terkait budidaya kepiting ini, Dwi mengungkapkan butuh waktu sekitar 1,5-2 bulan untuk meningkatkan berat kepiting hingga 3x lipat. 

Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan. Di mana timnya membeli kepiting diusia 3 minggu. Kemudian diternak untuk dikembangkan beratnya hingga ganti kulit. 

"Waktu itu kita beli kiloan. 1kg isi 3 kepiting. Dalam waktu 1,5-2 bulan kepiting bisa tumbuh hingga 3x lipat atau satu ekor bisa sampai 500 gram beratnya," ungkapnya.

Selain suhu dan kadar garam, Dwi mengatakan jika pemberian makan untuk kepiting juga harus rutin. Dalam sehari, Dwi dan tim memberi makan kepiting ternak dengan usus ayam yang dicacah dan diberikan sehari dua kali. 

"Dalam budidaya kepiting ini, kita harus memperhatikan pakan rutin, dan oksigen terlarut karena kepiting butuh udara yang tembus. Kadar garam juga berpengaruh besar untuk perkembangan dan tumbuh kepiting," tuturnya. 

Dwi menyebut, kepiting hasil budidaya juga sensitif terhadap suhu dan udara. Untuk itu, Smart Crabs House ini dapat memperpanjang masa hidup kepiting. 

Biasanya kepiting hanya mampu bertahan hidup seminggu dalam kondisi segar. Namun, hasil Smart Crabs House kepiting bisa bertahan hingga 3 bulan dalam kondisi segar. 

"Hasil budidaya kepiting kita bertahan hingga sampai bulanan. Kalau di restoran biasa hanya satu mingguan karena monitoring belum optimal," sebutnya. 

Meski sukses dalam mengembangkan budidaya kepiting, Dwi mengaku pihaknya menghadapi berbagai kendala. Seperti tempat budidaya yang sempit. 

Selain itu, penutup air filter aquarium yang masih menjadi kendala. Karena jika filter tercampur dengan air hujan akan mempengaruhi salinitas air. "Sedangkan jika tidak memiliki penutup, aman banyak hewan yang memburu kepiting," ucapnya.

Sementara itu, Direktur Telkom University Surabaya, Prof Tri Arief Sardjono mengatakan, saat ini pihaknya tengah fokus dalam mengembangkan lahan rooftop kampus untuk bisnis jalan melalui Smart Urban Farming. Dalam pertanian modern ini, Prof Tri mengembangkan perkebunan buah modern, ikan nila dan kepiting smart house.  

Pengembangan Smart Urban Farming ini, kata Prof Tri dilakukan oleh tim Center of Excellent (COE) yang terdiri dari dosen dan mahasiswa untuk pengembangan penelitian. 

"Harapannya melalui COE hasil penelitian bisa jadi prototipe dan hilirisasi. Ada research dan kelompok keahlian yang diminati masing-masing dosen dan mahasiswa," harapnya.

Diketahui, pengembangan dan budidaya Smart Crabs House ini berawal dari dana hibah katalis (kolaborasi penelitian strategis) dari Kemendikti Ristek yang berkolaborasi dengan IT Telkom University Bandung. 

Program ini merupakan percepatan nilai komersialisasi yang penelitiannya sudah dilakukan sejak tahun 2024 lalu. Dengan modal 10 juta Dwi dan 10 tim mahasiswa mengembangkan budidaya kepiting. 

 

Reporter: Amanah/Editor: Widyawati

 

 

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.