
SURABAYA (Lentera) -Mahasiswa Teknik Informatika Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, Wahyu Enggar Jati, meluncurkan inovasi berbasis Internet of Things (IoT) untuk mendukung produktivitas peternakan ayam petelur.
IoT adalah konsep di mana berbagai perangkat, seperti sensor, perangkat elektronik yang terhubung dan berkomunikasi melalui jaringan internet. Dengan IoT, pengguna dapat terkoneksi untuk melakukan berbagai aktivitas, mulai dari pencarian informasi hingga pengolahan data, tanpa perlu campur tangan manusia.
Karya tugas akhirnya bertajuk “Sistem Pendingin dan Penerangan Berbasis IoT dengan Pengendalian Histeresis untuk Meningkatkan Produktivitas Peternakan Ayam Petelur” ini dibimbing langsung oleh Supangat, Ph.D., ITIL., COBIT., CLA., CISA.
Enggar mengungkapkan, ide penelitian tersebut berawal dari pengalamannya saat mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Kabupaten Mojokerto.
“Inspirasi tugas akhir ini lahir dari program kerja kelompok KKN saya. Dari sana saya melihat langsung tantangan peternak ayam petelur,” ungkap Enggar, Rabu (27/8/2025).
Ia menjelaskan, suhu merupakan faktor penting dalam produktivitas ayam petelur. “Zona termonetral ayam berada pada suhu 25,9–29,9°C. Jika lebih dari itu, ayam berisiko mengalami stres termal yang menurunkan kualitas dan jumlah telur, bahkan berimbas pada pendapatan peternak,” jelasnya.
Selain suhu, kelembapan juga berperan besar terhadap kenyamanan ayam. Kelembapan yang tidak stabil dapat memperparah stres termal serta meningkatkan risiko gangguan fisiologis. “Karena itu keseimbangan suhu dan kelembapan kandang harus dijaga dengan baik,” tambahnya.
Melalui pemanfaatan IoT, Enggar merancang sistem yang memungkinkan pemantauan suhu dan kelembapan secara real-time. Dengan mikrokontroler ESP32 sebagai pusat kendali, sistem ini menggunakan sensor DHT22 untuk suhu dan kelembapan, TSL2561 untuk intensitas cahaya, MQ-135 untuk deteksi gas amonia, serta HC-SR04 untuk mengukur ketinggian air.
“Inovasi ini memudahkan peternak mengontrol kondisi kandang kapan saja dan di mana saja,” jelas mahasiswa asal Magetan itu.
Ia menuturkan, sistem juga dilengkapi metode kontrol penerangan yang bisa diatur manual maupun otomatis sesuai kondisi lingkungan. “Mode otomatis berbasis lux lebih efektif dipakai saat musim hujan, ketika kandang tertutup rapat dengan terpal. Sedangkan mode manual berbasis waktu dapat digunakan pada musim kemarau untuk menjaga sirkulasi udara,” tutupnya.
Reporter: Amanah|Editor: Arifin BH