29 November 2025

Get In Touch

Mahasiswa Ubaya Buat GERDMetric, Alat Deteksi GERD dari Air Liur dan Napas

Tiga mahasiswa Prodi Teknik Elektro menunjukkan inovasi GERDMetric. (Amanah/Lentera)
Tiga mahasiswa Prodi Teknik Elektro menunjukkan inovasi GERDMetric. (Amanah/Lentera)

SURABAYA (Lentera)– Tiga mahasiswa Program Studi Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Surabaya (FT Ubaya), berhasil merancang alat pendeteksi dini penyakit GERD (Gastroesophageal Reflux Disease).

Alat yang diberinama GERDMetric ini, menggabungkan analisis air liur dan udara napas dengan teknologi IoT untuk memberikan hasil pemantauan secara real-time melalui ponsel pintar.

Ketiganya adalah Zizi Aulia Azzahra, Elisabet Maya Putri, dan Felicia Hartono dari Prodi Teknik Elektro, FT Ubaya.

Ketua tim, Zizi Aulia Azzahra mengatakan, inovasi ini sebagai respons atas tingginya kasus GERD di Indonesia serta kebutuhan akan alat diagnosis yang lebih mudah diakses. 

“Penanganan GERD sering terlambat karena metode pemeriksaan seperti pH Metri dan endoskopi tidak mudah dijangkau dan biayanya cukup tinggi. GERDMetric kami hadirkan sebagai solusi yang lebih terjangkau dan praktis,” ucapnya, Jumat (28/11/2025).

Menurut Zizi, keunggulan GERDMetric terletak pada penggunaan dua indikator sekaligus untuk memastikan akurasi data. Air liur dianalisis untuk mengukur tingkat keasaman (pH), sementara gas dari napas pengguna digunakan untuk mendeteksi kadar amonia (NH3) yang berkaitan erat dengan gejala GERD. 

“Dengan dua parameter ini, alat tetap mampu memberikan hasil yang tepat meskipun digunakan secara mandiri,” jelasnya.

Untuk menggunakan alat ini, pengguna cukup menampung sedikit air liur pada tabung di bagian bawah perangkat dan menghembuskan napas ke sensor di bagian atas. Hanya dalam 10 detik, layar akan menampilkan hasil pengukuran pH, kadar amonia, serta kesimpulan kondisi pengguna apakah normal atau menunjukkan kecenderungan GERD. Data ini juga otomatis tersinkronisasi ke ponsel pengguna, keluarga, hingga rumah sakit terdekat.

Jika hasil terpantau mengarah pada kondisi berbahaya, perangkat akan mengirimkan notifikasi darurat ke ponsel yang terhubung. Pengguna juga dapat memanfaatkan tombol emergency untuk mengirim sinyal bantuan secara manual.

Meski GERDMetric sudah berfungsi optimal, Zizi menyebut masih ada ruang untuk pengembangan agar alat dapat diproduksi massal. 

“Kami berharap dukungan dari berbagai pihak agar GERDMetric bisa dikembangkan lebih jauh dan memberi manfaat bagi banyak kalangan mulai lansia yang tinggal sendiri, mahasiswa perantau, hingga penderita GERD kronis,” ujarnya.

Sementara itu, Dosen pembimbing sekaligus Ketua Program Studi Teknik Elektro Ubaya, Hendi Wicaksono Agung Darminto, memberikan apresiasi terhadap kerja keras tim selama lebih dari enam bulan. 

"Ke depan, kami akan mengupayakan hak paten sederhana agar perangkat tersebut bisa masuk ke tahap komersialisasi," tutupnya.

Diketahui, GERDMetric berhasil meraih Juara 2 dan Juara Favorit pada ajang Biomedical Engineering Smart Exhibition (Benmax) 2025.

 

Reporter: Amanah/Editor: Ais

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.