29 November 2025

Get In Touch

UB Kembali Buka Seleksi Mandiri Khusus Calon Mahasiswa Penyandang Disabilitas

Ilustrasi: Inklusifitas pendidikan di UB. (dok pld.ub.ac.id)
Ilustrasi: Inklusifitas pendidikan di UB. (dok pld.ub.ac.id)

MALANG (Lentera) - Universitas Brawijaya (UB) kembali membuka seleksi mandiri khusus bagi calon mahasiswa penyandang disabilitas untuk tahun akademik 2026. Skema ini diklaim menjadi salah satu jalur seleksi yang tidak dimiliki oleh banyak perguruan tinggi lainnya.

Sekretaris Direktorat Administrasi dan Layanan Akademik (DALA) UB, Arif Hidayat, S.Kom., M.M., mengatakan seleksi ini dirancang untuk memastikan para pendaftar benar-benar siap mengikuti proses pembelajaran di lingkungan kampus, yang menerapkan pendidikan inklusif.

"Khusus di UB, itu ada seleksi mandiri khusus penyandang disabilitas. Yang mungkin di banyak perguruan tinggi lainnya tidak ada," ujar Arif, Sabtu (29/11/2025).

Seleksi mandiri khusus penyandang disabilitas tersebut dijadwalkan berlangsung pada 11–22 Mei 2026, dengan pengumuman hasil pada 12 Juni 2026. Arif menyampaikan, jalur ini penting karena proses pendidikan di perguruan tinggi menuntut kesiapan menyeluruh dari calon mahasiswa.

"Yang utama dari penyandang disabilitas untuk bisa kuliah itu harus bisa dipastikan bahwa mereka mampu untuk mengikuti perkuliahan," paparnya.

Arif menegaskan, secara materi, metode pembelajaran, serta sarana dan prasarana, UB mengaku telah siap menyelenggarakan pendidikan inklusif yang dapat diikuti oleh mahasiswa penyandang disabilitas. Meski demikian, tidak seluruh pendaftar dapat dinyatakan memenuhi syarat untuk menjadi mahasiswa baru.

Menurutnya, ketidak eligibilitas dapat terjadi dari aspek akademik maupun non-akademik. Dari sisi akademik, asesmen dilakukan melalui tes yang berbentuk wawancara, bukan pengerjaan soal mandiri. Wawancara dilakukan oleh ahli sesuai bidang ilmu program studi (prodi) yang dipilih, sekaligus memiliki pemahaman cara berkomunikasi dengan penyandang disabilitas.

Sementara itu, dari sisi non-akademik, penilaian mencakup kondisi psikis dan mental calon mahasiswa. Arif menyebutkan, beberapa penyandang disabilitas memiliki kondisi mental tertentu atau perubahan mood yang tidak terkendali.

Dalam batas tertentu, menurutnya calon mahasiswa masih dapat dinyatakan lolos, namun apabila kondisinya melampaui batas toleransi yang tidak dapat diakomodasi melalui pendampingan, peserta bisa dinyatakan tidak eligible.

"Kami juga tidak membedakan kelas khusus untuk disabilitas. Kami mengedepankan pendidikan inklusif," tegasnya.

Data UB menunjukkan pada penerimaan mahasiswa baru 2025, terdapat 125 pendaftar penyandang disabilitas, dan 61 orang di antaranya dinyatakan diterima.

Terpisah, Kepala Subdirektorat Penerimaan Mahasiswa UB, Aulia Nur Mustaqiman, S.T.P., M.Sc., Ph.D., menambahkan seleksi mandiri khusus disabilitas terdiri dari dua tahap utama, yaitu asesmen kesiapan mental dan psikis (readiness) serta wawancara akademik.

"Ada dua tahap untuk seleksi mandiri disabilitas. Pertama, readiness untuk melihat kesiapan psikisnya, mentalnya. Kemudian ada tahapan wawancara, yang melakukan wawancara adalah ketua prodi yang dipilih oleh pendaftar atau calon mahasiswa baru," terangnya.

Aulia mengungkapkan, sejumlah peserta tidak lolos seleksi karena ketidaksesuaian latar belakang pendidikan dengan program studi yang dipilih. Hal tersebut biasanya terlihat pada saat wawancara.

"Yang kebanyakan tidak lolos adalah si anak misalkan background-nya IPS tetapi memilih prodi Teknik Komputer atau Informatika. Sehingga kadang tidak siap ketika ditanya pada tahapan wawancara oleh ketua prodi," tuturnya. (*)

 

Reporter: Santi Wahyu
Editor : Lutfiyu Handi

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.