01 January 2026

Get In Touch

Kerugian Bencana Iklim Terparah 2025 Tembus Rp1.800 Triliun, Banjir Sumatra Termasuk

Foto udara menampilkan tumpukan kayu-kayu memenuhi area Pondok Pesantren Darul Mukhlishin pascabanjir bandang di Desa Tanjung Karang, Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Jumat (5/12/2025). Usai sepekan setelah bencana banjir bandang, akses menuju De
Foto udara menampilkan tumpukan kayu-kayu memenuhi area Pondok Pesantren Darul Mukhlishin pascabanjir bandang di Desa Tanjung Karang, Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Jumat (5/12/2025). Usai sepekan setelah bencana banjir bandang, akses menuju De

JAKARTA (Lentera) -Total kerugian ekonomi dari sepuluh bencana iklim terbesar di dunia sepanjang 2025, termasuk Siklon Tropis Senyar yang menghantam Sumatra, diperkirakan melampaui US$120 miliar atau lebih dari Rp1.800 triliun. Angka ini menempatkan 2025 sebagai salah satu tahun dengan biaya iklim tertinggi.

Berdasarkan laporan terbaru dari Christian Aid bertajuk Counting the Cost 2025: A year of climate breakdown, kebakaran yang melanda California, Amerika Serikat pada awal 2025 menempati peringkat pertama sebagai bencana dengan kerugian terbesar, yakni dengan nilai US$60 miliar dan menyebabkan kematian 400 orang.

Banjir dan longsor yang terjadi di berbagai negara di Asia Tenggara dan Selatan akibat siklon tropis pada November 2025 berada di peringkat kedua berdasarkan laporan tersebut. Bencana tersebut menyebabkan kerugian ekonomi senilai US$25 miliar serta menyebabkan kematian 1.750 orang di Thailand, Indonesia, Sri Lanka, Vietnam, dan Malaysia. 

Sementara itu, banjir musiman di China dengan kerugian sebesar US$11,7 miliar dan menewaskan 30 orang berada di peringkat ketiga.

Laporan tersebut menekankan bahwa bencana-bencana ini bukan kejadian alami. Di California, perubahan iklim meningkatkan kemungkinan kondisi cuaca kebakaran ekstrem setidaknya 35 persen.

Analisis serupa juga menjelaskan fenomena siklon tropis di Asia Tenggara. Ilmuwan mencatat bahwa perubahan iklim meningkatkan intensitas badai tersebut sehingga curah hujan melonjak tinggi dan menyebabkan banjir mematikan. Perubahan iklim juga meningkatkan kemungkinan terjadinya topan dengan intensitas tinggi seperti Topan Ragasa sebesar 49 persen.

“Bencana iklim ini merupakan peringatan tentang apa yang akan terjadi jika kita tidak mempercepat transisi dari bahan bakar fosil. Bencana ini juga menggarisbawahi kebutuhan mendesak untuk adaptasi, khususnya di negara-negara Selatan, di mana sumber daya terbatas dan masyarakat sangat rentan terhadap guncangan iklim,” kata Patrick Watt, CEO Christian Aid, dikutip dari siaran pers, Senin (22/12/2025).

Selain kerugian, wilayah-wilayah yang terdampak bencana juga mesti menanggung biaya rekonstruksi. Jumlahnya pun cukup signifikan bagi negara-negara berkembang. Contohnya, untuk membenahi kerusakan akibat banjir parah di Sumatra, kebutuhan biaya diestimasi melebihi US$3 miliar, sementara di Sri Lanka mencapai US$6–7 miliar 

“Tahun ini mengungkapkan kenyataan brutal perubahan iklim. Ketika negara-negara kaya menghitung kerugian finansial akibat bencana, jutaan orang di seluruh Afrika, Asia, dan Karibia menghitung nyawa, rumah, dan masa depan yang hilang,” kata Mohamed Adow, Direktur Power Shift Africa, lembaga think-tank energi dan iklim yang berbasis di Nairobi, Kenya.

Sementara itu, Joanna Haigh, Profesor Emeritus Fisika Atmosfer dari Imperial College London mengemukakan bahwa harga yang harus dibayar untuk krisis iklim makin tinggi, padahal solusinya telah diketahui. Dia mencatat bahwa meskipun biayanya mencapai miliaran, beban terberat justru dipikul oleh komunitas dan kelompok dengan sumber daya paling terbatas.

“Ini bukanlah bencana alam, melainkan hal yang dipicu dari ekspansi bahan bakar fosil dan penundaan keputusan politik,” katanya.

Berikut daftar lengkap bencana dengan biaya tertinggi sepanjang 2025:

1. Kebakaran di Los Angeles, Amerika Serikat pada Januari, dengan kerugian finansial US$60 miliar dan lebih dari 400 kematian.

2. Badai Siklon di Asia Tenggara dan Asia Selatan pada November, dengan kerugian finansial US$25 miliar dan lebih dari 1.750 kematian.

3. Banjir musiman China pada Juni–Agustus, dengan kerugian US$11,7 miliar dan lebih dari 30 kematian.

4. Angin Topan Melissa di Jamaika, Kuba, dan Bahama pada pertengahan hingga akhir 2025, dengan kerugian US$8 miliar dan angka kematian yang belum selesai ditabulasi.

5. Banjir di India dan Pakistan pada Juni–September, dengan kerugian US$5,6 miliar dan lebih dari 1.860 kematian.

6. Topan di Filipina pada tengah tahun sampai November, dengan kerugian US$5 miliar dan ratusan kematian.

7. Kekeringan di Brasil pada Januari–Juni, dengan kerugian US$4,75 miliar.

8. Siklon Tropis Alfred di Australia pada Februari, dengan kerugian US$1,2 miliar dan 1 kematian.

9. Siklon Garance di Réunion, Afrika Timur, pada Februari dengan kerugian US$1,5 miliar dan 5 kematian.

10. Banjir Texas, Amerika Serikat pada Juli, dengan kerugian US$1 miliar dan lebih dari 135 kematian (*)

Editor: Arifin BH

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.