07 January 2026

Get In Touch

Sempat Dianggap Punah 3 Dekade, Kucing Kepala Datar Muncul Lagi di Thailand

 Sempat Dianggap Punah 3 Dekade, Kucing Kepala Datar Muncul Lagi di Thailand

SURABAYA ( LENTERA ) - Setelah hampir tiga dekade tak terdokumentasi, kucing kepala datar atau kucing tandang (Prionailurus planiceps), salah satu spesies kucing paling langka di dunia, akhirnya kembali muncul di Thailand. Temuan ini menjadi kabar menggembirakan bagi dunia konservasi, mengingat spesies tersebut sempat dikategorikan sebagai “mungkin punah” di negara tersebut.

Kucing kepala datar terakhir kali tercatat secara resmi di Thailand pada tahun 1995. Sejak itu, keberadaannya menjadi misteri besar bagi para ilmuwan. Minimnya bukti visual selama puluhan tahun membuat banyak pihak meragukan apakah spesies ini masih bertahan hidup di alam liar. Meski demikian, laporan lisan dari masyarakat lokal terus bermunculan dan mendorong para aktivis konservasi untuk tetap melakukan pencarian.

Upaya panjang tersebut akhirnya membuahkan hasil. Tim dari Departemen Taman Nasional, Satwa Liar, dan Konservasi Tanaman (DNP) Thailand, bekerja sama dengan organisasi konservasi Panthera, berhasil merekam keberadaan kucing kepala datar menggunakan kamera jebakan (camera traps).

Sepanjang tahun 2024, tim mencatat sebanyak 13 kali deteksi. Jumlah tersebut meningkat pada 2025 dengan tambahan 16 deteksi baru. Temuan paling emosional adalah tertangkapnya gambar seekor induk kucing kepala datar bersama anaknya. Bukti ini menunjukkan bahwa spesies langka tersebut tidak hanya bertahan hidup, tetapi juga masih berkembang biak di alam liar.
“Ini adalah momen bersejarah bagi Thailand dan refleksi kuat dari komitmen jangka panjang kami terhadap konservasi,” ujar Menteri Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup Thailand, Suchart Chomklin, seperti dikutip dari IFL Science. Ia menambahkan bahwa kemunculan kembali kucing kepala datar menjadi pengingat penting bahwa melindungi habitat alami sama dengan menjaga masa depan bangsa.

Strategi Baru di Balik Penemuan

Kucing kepala datar dikenal sebagai hewan nokturnal yang sangat pemalu dan cenderung bersembunyi di habitat dengan vegetasi rapat. Karakter ini membuat pencarian mereka menjadi tantangan besar bagi para peneliti.

Rattapan Pattanarangsan, Manajer Program Konservasi Panthera Thailand, mengungkapkan bahwa kegagalan upaya sebelumnya disebabkan oleh penempatan kamera jebakan yang kurang tepat. Tim kemudian mengubah strategi dengan memanfaatkan pengalaman dari penelitian kucing bakau (fishing cat), spesies lain yang memiliki karakteristik habitat serupa.

“Faktor kuncinya adalah pilihan lokasi penempatan. Dengan memanfaatkan pengalaman bertahun-tahun dari penelitian kucing bakau, para peneliti Panthera mampu mengidentifikasi lokasi yang cocok, yang akhirnya membuahkan keberhasilan deteksi,” jelas Rattapan.

Harapan Baru bagi Spesies Terancam
Secara global, populasi kucing kepala datar diperkirakan hanya tersisa sekitar 2.500 ekor dan berstatus terancam punah dalam Daftar Merah IUCN. Di Thailand, spesies ini sebelumnya bahkan diklasifikasikan sebagai “mungkin punah”.

Keberhasilan pendeteksian ulang ini membangkitkan optimisme baru. Para peneliti berharap temuan ini dapat menjadi titik awal untuk menyelidiki kembali laporan-laporan tak terkonfirmasi mengenai spesies langka lain di wilayah yang belum banyak dijelajahi. Kesuksesan ini juga memperkuat pesan bahwa konservasi jangka panjang dapat memberikan hasil nyata bagi kelestarian keanekaragaman hayati.(tmo,ist/dya)
 

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.