01 January 2026

Get In Touch

Gairah di Bursa Efek

Subakti Sidik, Wartawan Senior
Subakti Sidik, Wartawan Senior

OPINI (Lentera) -Cuan....cuan....cuan...!!!. Ini teriakan anak-anak muda di sebuah kafe di Solo. Sambil menyantap hidangan. Wajah -wajah mereka tampak ceria. 

Mereka bersukaria. Menutup Tahun 2025 dengan rasa gembira. Menapak 2026 dengan optimistis. Anak - anak muda ini adalah investor retail pasar modal. Sebagian besar ivestor BEI  sekarang adalah anak muda. Generasi Z. 

Usianya, di bawah 28 tahun. Mereka yakin pasar modal memberikan harapan masa depan. 

Ya, Bursa Efek Indonesia (BEI) memang menggebrak. Indonesia Stock Exhchange (IDX) menggeliat. Bak naga, bangun tidur mengibas-ngibaskan ekornya.

Tahun 2025 ini BEI menorehkan prestasi spektakuler. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang diawal tahun hanya 7.000 an. Melaju dan terus melaju. Saat tutup tahun kemarin. Angkanya tembus 8.600-an. Bahkan awal-awal Desember 2025, mencapai 8.700-an. 

"Ini rekor tertinggi sepanjang masa (all time high), " ujar Dirut BEI Iman Rahman.

IHSG Selasa lalu (30/12/2025) ditutup dengan nilai transaksi Rp  20,39 triliun. Para investor optimistis, tahun 2026 geliatan naga bursa makin bertenaga. Angka 9.000 -an bukan tidak mungkin dapat direngkuh. Bahkan 10.000-an bisa saja terjadi. 

Ini tentu kabar gembira. Bagaimana mungkin, ketika ekonomi negeri ini tidak sedang baik-baik saja. Prestasi gemilang dicapai BEI. 

Oiiii....!!!. Faktor apakah ini ?. Banyak yang berspekulasi: daripada bisnis sulit. Mending, uang diputar di pasar modal. Nah, setelah mencoba. Ternyata ada hasilnya.

Para pemula ketagihan. Jangan bayangkan mereka langsung terjun "trading". Merangkak dulu, lewat peruntungan, memburu deviden. 

Ya, memburu deviden, saham-saham liquid agaknya paling cocok untuk pemula. Saham-saham BUMN yang emitennya terkenal bonafid, selalu membagikan deviden menarik. 

Di bulan-bulan awal, deviden interim diluncurkan. Dan bulan pertengahan  tahun, deviden final digelontorkan.

Mantab Coiii....!!!. Hanya dengan diam, uang terus bekerja. Inilah yang disebut "Passive Income". " Daripada uang didepositokan," kata Yanto investor muda yang belum setahun gabung di bursa efek. 

Bayangkan. Dengan deposito, hanya diperoleh tambahan antara 2% - 3%. Belum lagi dipotong pajak. 

Berlipat Ganda

Kalo diinvestasikan di pasar modal ?. Jangan kaget. Hasilnya bisa dua kali lipat. Atau bahkan tiga kali. Wouw asssoi.....!!!

Faktor makin familiarnya orang dengan hp android, tak dipungkiri makin mudah untuk berinvestasi di pasar modal.

Era digital, memang menyenangkan. Untuk berinvest di bursa efek, tak perlu repot - repot pergi ke kantor agen sekuritas. 

Aplikasi di hp banyak tersedia. Tinggal pilih, sekuritas yang mana. Ketak - ketuk hp. Dalam sekejap, kita sudah mendapatkan Rekening Dana Nasabah (RDN). 

Ketak-ketuk lagi, cuan sudah di tangan. Lho.....masak secepat itu kita dapat cuan ?. Kan deviden butuh waktu ?. Bisa seminggu - dua minggu - sebulan. Atau berbulan - bulan?. 

Ya, benar. Tapi cuan lain, bisa didapat dari "capital gain". "Capital gain" adalah selisih harga beli dan jual. Baru beberapa menit beli saham, bisa saja harga naik. Beli Rp 3.500, naik jadi Rp 3.550.

Sejam kemudian, naik menjadi Rp 3.600 dan seterusnya. Jangan kaget, kalo pada jam - jam akhir "cumdate", harga saham rally. 

"Cumdate" adalah tanggal terakhir investor memiliki saham. Dan berhak atas deviden. Saat inilah investor sport jantung. Perubahan harga terus terjadi dalam hitungan detik ke detik. 

Tidak ada penurunan. Yang ada, hanya kenaikan dan kenaikan. Harga tinggipun disabet. Orang berebut.

Kenapa bisa begitu? Karena beberapa hari lagi deviden dibagikan. Inilah saatnya, type investor "passive income" merengkuh keuntungan. 

Tapi ada pula investor yang tak  peduli deviden. "Ah.....ngapain deviden. Kecil."Mereka lebih pilih "capital gain". Selisih harga beli dan harga jual saham. 

Kalo belinya rendah. Harga jualnya tinggi ?. Ya abaikan deviden. "Capital gain" lebih profit. Oh my God....!!!. Ternyata mengasyikkan. 

Lalu, apakah bisnis di pasar modal, pasti selalu menguntungkan?.

Tidak juga. Pebisnis pasti paham. "Berbisnis apapun, tak ada yang  tanpa resiko. Ada juga investor yang rugi," ujar Kepala BEI Jateng 2, Muh. Wira Adibrata (*)

Penulis: Subakti Sidik, Wartawan Senior|Editor: Arifin BH

Share:

Punya insight tentang peristiwa terkini?

Jadikan tulisan Anda inspirasi untuk yang lain!
Klik disini untuk memulai!

Mulai Menulis
Lentera Today.
Lentera Today.