06 January 2026

Get In Touch

Apakah Karyawan Kita Mau Membeli Produk Kita Sendiri?

Apakah Karyawan Kita Mau Membeli Produk Kita Sendiri?

Tadi ketika menjemput anak pulang sekolah, saya menjumpai pemandangan yang unik --dua driver ojol naik di 1 motor, saya mengandaikan ini ada driver ojol yang lagi order ojol. :D Gambar ini menggelitik saya, hingga melahirkan pertanyaan usil: Apakah karyawan kita, akan membeli produk kita? —secara sukarela, bukan tanpa tekanan atau diskon karyawan

Ini mungkin terdengar sepele, bahkan agak usil. Tapi justru di sanalah kekuatannya. Sebab, karyawan adalah konsumen paling dekat dengan produk kita —mereka tahu prosesnya, kualitasnya, hingga ceritanya. Jika mereka saja ragu, bagaimana dengan pasar?

Dalam teori internal marketing, karyawan diposisikan sebagai “pelanggan internal”. Philip Kotler menekankan bahwa sebelum sebuah brand meyakinkan pasar eksternal, ia harus terlebih dahulu diyakini oleh orang-orang di dalamnya.
Penelitian Gallup (2020) menunjukkan bahwa perusahaan dengan tingkat employee engagement tinggi memiliki profitabilitas 21% lebih besar dibanding yang rendah. Salah satu indikator engagement adalah kebanggaan terhadap produk atau layanan perusahaan.

Lantas, kalau karyawan tidak mau membeli, apa artinya?

Ini bukan soal menyalahkan karyawan. Justru sebaliknya, ini sinyal penting bagi pengembangan bisnis. Biasanya, masalahnya ada di salah satu hal berikut:
1. Value produk belum jelas – bahkan orang dalam belum paham keunggulannya.
2. Kualitas tidak konsisten – karyawan tahu “cerita dapur” yang konsumen tidak tahu.
3. Brand story kurang hidup – produk dijual, tapi tidak diceritakan.

Harvard Business Review pernah menulis bahwa employees who understand and believe in the company’s value proposition deliver better customer experiences. --Kepercayaan internal berdampak langsung ke pengalaman pelanggan.

Apa Relevansinya bagi Business Development?

Business development bukan hanya soal ekspansi pasar, tapi juga soal memperkuat fondasi ke dalam. Karyawan yang mau membeli produk sendiri adalah indikator sehatnya model bisnis.

Pasar bisa dibujuk dengan iklan. Tapi karyawan kita sulit dibohongi.
Jika karyawan kita dengan senang hati membeli, memakai, dan merekomendasikan produk perusahaan—itu pertanda produk kita berada di jalur yang benar. Sebaliknya, jika mereka ragu, mungkin bukan pasarnya yang salah, tapi ada cerita yang belum kita bereskan.

Jadi sebelum bertanya, “Kenapa produk kita belum laku?”
Coba tanya dulu: “Apakah kita sendiri—sebagai orang dalam—sudah benar-benar percaya?”
Kadang, jawaban bisnis terbesar datang dari pertanyaan yang paling sederhana.

Happy Friday! 


(* Suhardiman Eko, Tim di Lentera Media

Share:

Punya insight tentang peristiwa terkini?

Jadikan tulisan Anda inspirasi untuk yang lain!
Klik disini untuk memulai!

Mulai Menulis
Lentera Today.
Lentera Today.