Orasi Ilmiah di UB, Menaker Yassierli Soroti Disrupsi AI dan Peran Kampus Siapkan Tenaga Kerja Masa Depan
MALANG (Lentera) - Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) RI, Yassierli menyoroti besarnya dampak disrupsi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) terhadap perubahan dunia kerja, sekaligus menegaskan peran strategis perguruan tinggi dalam menyiapkan tenaga kerja masa depan.
Penegasan tersebut disampaikan Yassierli dalam Orasi Ilmiah pada peringatan Dies Natalis ke-63 Universitas Brawijaya (UB), Senin (5/1/2026).
"Kondisi ketenagakerjaan Indonesia pada tahun 2025, dari total 216,79 juta penduduk usia kerja, sebanyak 153,05 juta merupakan angkatan kerja, dengan jumlah pengangguran mencapai 7,28 juta orang. Selain itu, dominasi sektor informal dan ketidaksesuaian keterampilan (skill mismatch) masih menjadi persoalan utama," ujarnya.
Ia menjelaskan, disrupsi global akibat perkembangan teknologi diperkirakan akan mengubah lanskap dunia kerja secara signifikan. Berdasarkan proyeksi global, sekitar 92 juta jenis pekerjaan berpotensi hilang atau tergantikan hingga 2030.
Namun di saat yang sama, kata Yassierli, peluang kerja baru juga akan bermunculan. "Diperkirakan akan tercipta sekitar 170 juta jenis pekerjaan baru, sehingga setidaknya 59 persen tenaga kerja dituntut melakukan reskilling dan upskilling agar tetap relevan," jelasnya.
Lebih lanjut, Yassierli menyebut perubahan dunia kerja tersebut didorong oleh tiga faktor utama. Pertama, pergeseran menuju ekonomi berbasis AI dan teknologi digital. Kedua, transisi ke ekonomi hijau dan berkelanjutan. Ketiga, perubahan demografi serta berkembangnya ekonomi berbasis layanan manusia.
Menurutnya, ketiga penggerak tersebut berdampak langsung pada berbagai sektor strategis, mulai dari ekonomi digital, industri kreatif, hingga care economy yang mengandalkan layanan berbasis empati dan interaksi manusia.
Terkait perkembangan AI, Menaker menegaskan teknologi tidak sepenuhnya menggantikan peran manusia. AI justru berfungsi sebagai penguat atau augmentasi pekerjaan, khususnya dengan mengambil alih tugas-tugas kognitif yang bersifat rutin.
"Manusia tetap memegang peran strategis yang membutuhkan kreativitas, empati, serta kemampuan berinteraksi sosial. Prinsipnya adalah people first, powered by technology," tegasnya.
Yassierli juga menekankan pentingnya penguatan human skills di tengah pesatnya kemajuan teknologi. Ia menyebut kemampuan berpikir kritis, pemecahan masalah, komunikasi, dan kepemimpinan menjadi kompetensi kunci di masa depan.
"Data global menunjukkan delapan dari 11 keterampilan inti yang dibutuhkan pada 2030 merupakan human skills, meskipun teknologi terus berkembang sangat cepat," paparnya.
Dalam konteks tersebut, Yassierli menegaskan, peran strategis perguruan tinggi sebagai penghubung antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri. Kampus diharapkan mampu memastikan lulusan memiliki kompetensi terukur melalui portofolio, micro-credential, serta kurikulum yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja.
Selain menyiapkan lulusan siap kerja, perguruan tinggi juga didorong menanamkan entrepreneurial dan innovative mindset. "Kemampuan menciptakan peluang dan solusi baru menjadi modal penting bagi generasi muda dalam menghadapi ketidakpastian pasar kerja ke depan," katanya.
Reporter: Santi Wahyu/Editor: Ais





