08 January 2026

Get In Touch

Tekan Obesitas dan Defisit BPJS, Mahasiswa ITS Gagas Ekosistem Kebugaran Terintegrasi

Diagram konsep implementasi SGREEFIT dari tim mahasiswa ITS dalam memanfaatkan fasilitas yang ada untuk membuat program yang sistematis dan terintegrasi guna menangani obesitas.
Diagram konsep implementasi SGREEFIT dari tim mahasiswa ITS dalam memanfaatkan fasilitas yang ada untuk membuat program yang sistematis dan terintegrasi guna menangani obesitas.

SURABAYA (Lentera)– Angka obesitas di Indonesia yang terus meningkat dari tahun ke tahun, mendorong mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menghadirkan solusi inovatif.

Lewat Tim SGREEFIT, mahasiswa menggagas program penanganan obesitas berbasis ekosistem kebugaran berkelanjutan, melalui strategi terintegrasi antara layanan kesehatan dan fasilitas olahraga.

Salah satu anggota Research and Development SGREEFIT, Muhammad Rafi Kalevi menjelaskan gagasan tersebut berangkat dari belum adanya penanganan obesitas, yang terstruktur dan berkelanjutan di Indonesia.

Kondisi ini tidak hanya berdampak pada kesehatan masyarakat tetapi juga membebani keuangan negara, khususnya Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.

“Data terakhir menunjukkan BPJS Kesehatan mengalami defisit sebesar Rp 9,6 triliun, dan salah satu penyumbangnya adalah penyakit akibat obesitas,” kata mahasiswa yang akrab disapa Levi tersebut, Selasa (6/1/2026).

Menjawab persoalan tersebut, SGREEFIT menawarkan solusi berupa sistem terintegrasi yang menghubungkan BPJS Kesehatan, aplikasi Mobile JKN, serta pusat kebugaran. Program ini dirancang untuk memaksimalkan fasilitas yang sudah tersedia, sekaligus menciptakan alur penanganan obesitas yang sistematis dan mudah diakses masyarakat.

“Program ini menghadirkan mekanisme terintegrasi agar penanganan obesitas bisa dilakukan secara berkelanjutan, bukan parsial,” jelasnya.

Mahasiswa Departemen Teknik Mesin ITS ini menuturkan, konsep program SGREEFIT disusun berdasarkan Theory of Planned Behavior (TPB) sebagai pendekatan utama dalam meningkatkan niat berolahraga masyarakat.

TPB mencakup tiga faktor utama, yakni sikap positif terhadap manfaat olahraga, norma subjektif yang diperkuat secara institusional, serta kontrol perilaku yang dipersepsikan melalui kemudahan akses dan dukungan regulasi.

Penerapan teori tersebut diwujudkan melalui konsep smart gym berbasis internet of things (IoT) untuk memantau kesehatan peserta, dukungan kebijakan dari Kementerian Kesehatan melalui Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) yang terintegrasi dengan BPJS, serta kemudahan akses ke fasilitas kebugaran.

Adapun tahapan program dimulai dari konsultasi medis untuk mendapatkan rekomendasi olahraga sesuai kondisi tubuh peserta. Selanjutnya, peserta menjalani aktivitas kebugaran di gym yang terhubung dengan sistem BPJS. 

"Program ini juga dilengkapi fitur gamifikasi berupa pemberian poin dan voucher bagi peserta yang konsisten menjalani program, guna meningkatkan motivasi berolahraga," tuturnya.

Levi menambahkan, keberhasilan program ini membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. Diantaranya Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), Kementerian Kesehatan (Kemenkes), ahli gizi, sport scientist, dokter, hingga masyarakat.

“Seluruh konsep, tahapan, dan rekomendasi program telah kami tuangkan dalam dokumen policy brief yang telah dipublikasikan,” ungkapnya.

Levi menyebut, apabila program ini mampu menurunkan prevalensi obesitas sebesar 35 persen, maka beban pengeluaran BPJS Kesehatan berpotensi berkurang hingga Rp 10,5 triliun. Angka tersebut dihitung dari asumsi 60 persen total biaya akibat obesitas sebesar Rp 56 triliun ditanggung oleh BPJS. “Penghematan ini secara teoritis mampu menutup defisit BPJS sebelumnya,” tegas Levi.

Berkat inovasi tersebut, Tim SGREEFIT yang dibimbing oleh dosen Alfan Purnomo ST MT berhasil meraih medali perak kategori presentasi pada Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) ke-38 tahun 2025. 

“Harapannya, program ini dapat dikembangkan menjadi kebijakan strategis nasional dalam penanganan obesitas di Indonesia,” pungkas Levi.

 

Reporter: Amanah/Editor: Ais

 

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.