09 January 2026

Get In Touch

Minim Anggaran di 2026, DLH Kota Malang Buka Kerja Sama Pemeliharaan Taman

Plh Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Malang, Gamaliel Raymond H Matondang. (Santi/Lentera)
Plh Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Malang, Gamaliel Raymond H Matondang. (Santi/Lentera)

MALANG (Lentera) - Menghadapi minimnya anggaran pemeliharaan taman pada tahun 2026, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang membuka lebar peluang kerja sama dengan perusahaan swasta melalui program Corporate Social Responsibility (CSR).

Plh Kepala DLH Kota Malang, Gamaliel Raymond Matondang, menjelaskan efisiensi anggaran menjadi tantangan utama dinasnya pada 2026. Menurutnya, hampir seluruh kegiatan yang dapat dilaksanakan adalah program-program rutin, khususnya di bidang persampahan dan pertamanan yang memang wajib berjalan setiap tahun.

"Untuk tahun 2026, karena anggaran kegiatan menerapkan efisiensi, sehingga yang kami laksanakan adalah kegiatan rutin saja, yakni di bidang persampahan maupun pertamanan," ujar Raymond, Rabu (7/1/2026).

Di sektor pertamanan, DLH berkomitmen melakukan pemeliharaan taman kota sebagaimana yang telah dikerjakan pada 2025. Prioritas utama adalah perawatan, termasuk perempesan atau pemangkasan ranting pohon untuk mengantisipasi potensi bahaya akibat cuaca ekstrem yang masih diprediksi terjadi hingga Februari 2026.

Raymond menegaskan, antisipasi tersebut penting karena banyak taman di Kota Malang dipenuhi pepohonan besar. Perempesan rutin dilakukan agar pohon tetap aman, tidak mudah roboh, serta mengurangi risiko patahnya dahan yang dapat membahayakan pengunjung maupun pengguna jalan di sekitar taman.

Disebutkannya, saat ini terdapat sekitar 12 taman yang secara resmi masuk kategori Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan dikelola langsung oleh DLH. "Itu sifatnya kegiatan rutin, terutama untuk taman yang masuk dalam RTH, kurang lebih ada 12 taman," jelasnya.

Selain taman eksisting, DLH juga berencana menambah objek kelolaan baru. Sejumlah taman di berbagai wilayah diajukan agar pengelolaannya berada di bawah dinas lingkungan hidup. Total ada sekitar 17 taman tambahan yang diusulkan untuk ikut ditangani mulai TA 2026.

Namun, Raymond menyebutkan alokasi dana pertamanan pada 2026 ini jauh lebih kecil dibanding tahun sebelumnya. Pada 2025, DLH memperoleh anggaran pemeliharaan taman sekitar Rp7 miliar. Sementara pada 2026, dana yang tersedia hanya sekitar Rp390 juta, atau tidak sampai Rp400 juta.

"Maka kami juga menyampaikan kepada perusahaan swasta ataupun CSR yang mau mempercantik taman-taman Kota Malang, kami sangat membuka kerja sama ini, minimal dalam rangka pemeliharaan," katanya.

Menurutnya, taman yang berfungsi sebagai RTH sangat mudah mengalami kerusakan. Perbaikan fasilitas seperti pengecatan besi, perawatan bangku taman, perbaikan lampu, maupun sarana lain membutuhkan biaya cukup besar. Kebutuhan inilah yang diharapkan dapat ditopang melalui kolaborasi CSR atau skema branding dari pihak swasta.

Sementara anggaran hampir Rp400 juta yang diterima tahun ini difokuskan bukan untuk renovasi fisik taman, melainkan untuk pembelian dan perawatan alat pemeliharaan rutin. Alat-alat seperti mesin potong rumput, sapu, cikrak, hingga perlengkapan perempesan memerlukan perbaikan setiap tahun agar kegiatan dasar tidak terhambat. 

"Kami fokuskan di sana supaya kegiatan rutin tidak terhalang dan pelayanan tetap berjalan," tambahnya. (*)


Reporter: Santi Wahyu
Editor : Lutfiyu Handi

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.