SURABAYA (Lentera) – Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengatakan, sampai saat ini belum ada laporan resmi terkait kasus super flu di Surabaya. Namun, tetap mengimbau masyarakat untuk waspada, terutama bagi warga yang melakukan perjalanan liburan, baik di dalam kota maupun yang baru kembali dari luar negeri.
“Hingga saat ini belum ada laporan resmi. Namun kami tetap memberikan imbauan kepada warga yang merayakan libur Nataru, baik di tempat hiburan lokal maupun yang baru kembali dari luar negeri,” kata Eri, Rabu (7/1/2026).
Eri menjelaskan, khusus bagi pelaku perjalanan internasional, prosedur skrining kesehatan telah diterapkan secara ketat. Pemeriksaan kesehatan, termasuk pengecekan suhu tubuh saat kedatangan, dilakukan sebagai langkah deteksi dini terhadap berbagai potensi penyakit, termasuk influenza.
Sementara itu, untuk mobilitas dalam negeri, Eri menekankan pentingnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kondisi kesehatan masing-masing.
“Kami berharap masyarakat memiliki kesadaran sendiri. Jika merasa kondisi tubuh kurang sehat, seperti demam, batuk, atau gejala flu lainnya, segera melapor ke fasilitas kesehatan terdekat,” tuturnya.
Sebagai bentuk kesiapsiagaan, Pemkot Surabaya telah menyiagakan seluruh puskesmas dan memperkuat koordinasi dengan rumah sakit. Seluruh fasilitas kesehatan diminta untuk segera melaporkan apabila menemukan pasien dengan gejala yang mengarah pada penyakit menular guna dilakukan pemeriksaan dan penanganan lanjutan.
“Jika dalam pemeriksaan ditemukan indikasi tertentu, harus segera dilaporkan agar bisa ditindaklanjuti dengan pemeriksaan lanjutan,” imbuhnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya, Nanik Sukristina, memastikan hingga saat ini belum ditemukan pasien yang terpapar virus super flu di Surabaya. Meski demikian, Dinkes terus melakukan langkah antisipatif secara aktif dan berkelanjutan.
“Langkah tersebut meliputi penguatan surveilans kesehatan dan pemantauan kasus ISPA dan influenza di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan, peningkatan kesiapsiagaan puskesmas dan rumah sakit, serta penerapan standar Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI),” jelas Nanik.
Selain itu, Dinkes Surabaya juga memperkuat edukasi dan promosi kesehatan kepada masyarakat, khususnya kelompok rentan seperti balita, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit kronis.
Koordinasi lintas sektor terus dilakukan bersama rumah sakit rujukan, kecamatan, kelurahan, kader kesehatan, hingga Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) dan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur.
Nanik menambahkan, sistem deteksi dini dan pelaporan cepat telah berjalan. Setiap kasus penyakit pernapasan dicatat dan dianalisis secara harian untuk memantau kecenderungan peningkatan kasus di suatu wilayah.
“Jika ditemukan pasien dengan gejala flu berat atau tidak biasa, fasilitas kesehatan wajib melakukan skrining lanjutan dan melaporkannya melalui sistem pelaporan resmi dalam waktu kurang dari 24 jam,” tambahnya.
Terkait isu super flu, Dinkes Surabaya mengungkapkan, istilah tersebut bukan istilah medis resmi. Istilah super flu umumnya digunakan untuk menggambarkan influenza atau infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dengan gejala yang dirasakan lebih berat atau penyebarannya cepat di masyarakat.
Gejala yang perlu diwaspadai antara lain demam mendadak, batuk, pilek, sakit tenggorokan, sakit kepala, nyeri otot, hingga tubuh terasa lemas. Masyarakat diimbau tetap tenang, tidak mudah percaya pada informasi yang belum jelas sumbernya, serta selalu mengakses informasi kesehatan dari kanal resmi pemerintah.
“Jika mengalami gejala flu yang berat atau tidak membaik, segera periksakan diri ke puskesmas atau rumah sakit. Tetap terapkan perilaku hidup bersih dan sehat, etika batuk dan bersin, serta jaga daya tahan tubuh,” pungkas Nanik.
Sebagai informasi, sebelumnya Kementerian Kesehatan RI melaporkan hingga akhir Desember 2025 terdapat 62 kasus influenza A (H3N2) subclade K yang tersebar di delapan provinsi di Indonesia. Kemenkes memastikan kondisi tersebut masih terkendali dan tidak menunjukkan peningkatan tingkat keparahan dibandingkan clade atau subclade influenza lainnya. (*)
Reporter: Amanah
Editor : Lutfiyu Handi





