PEMUTUSAN hubungan kerja (PHK) serta pengangguran usia muda dan terdidik diproyeksikan menjadi risiko serius yang membayangi Indonesia sepanjang 2026. Centre for Strategic and International Studies (CSIS) mencatat, meski tingkat pengangguran terbuka nasional pada 2025 relatif rendah di kisaran 4,8 persen, persoalan struktural justru mengemuka pada kelompok usia muda dengan tingkat pengangguran mencapai 17 persen, tertinggi di Asia. Di saat yang sama, lebih dari 1,01 juta lulusan perguruan tinggi tercatat menganggur, mencerminkan memburuknya fenomena pengangguran terdidik yang berpotensi memicu sinisme dan ketidakpuasan sosial.Dari sisi makroekonomi, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 diperkirakan masih berada di kisaran 4,8–5 persen, tertekan perlambatan ekonomi global, melemahnya Amerika Serikat dan China, serta meningkatnya ketegangan geopolitik. Tekanan eksternal tersebut, ditambah struktur ekonomi domestik yang padat modal dan minim penyerapan tenaga kerja, turut mendorong kenaikan kasus PHK yang pada Januari–November 2025 mencapai 79.302 orang. Para ekonom menilai, tanpa intervensi kebijakan pasar kerja yang lebih agresif dan berorientasi penciptaan kerja berkualitas, stabilitas sosial dan ekonomi diramalkan suram pada 2026. BACA BERITA LENGKAP, KLIK DISINI https://lenteratoday.com/upload/Epaper/08012026.pdf




.jpg)
.jpg)
