SURABAYA (Lentera) -Fenomena penggunaan kartu tarot di kalangan Generasi Z kian marak dan menjadi bagian dari cara sebagian anak muda mengelola emosi serta menghadapi ketidakpastian hidup. Praktik ini menarik perhatian berbagai kalangan, termasuk psikolog, untuk memahami alasan dan dampaknya dari sudut pandang ilmiah.
Psikolog Klinis Universitas Airlangga (Unair), Dian Kartika Amelia Arbi, MPsi, menilai tarot sejatinya bukanlah fenomena baru. Namun, kecenderungan Generasi Z memanfaatkannya sebagai rujukan emosional menjadi hal yang perlu dipahami lebih dalam.
“Dari perspektif psikologi, tarot bisa menjadi salah satu cara individu, khususnya Gen Z, ketika menghadapi situasi yang dirasa tidak menyenangkan dan membuat mereka merasa tidak berdaya. Mereka berusaha mencari penjelasan eksternal atas apa yang sedang dialami, yang diharapkan dapat memberikan rasa tenang,” kata Dian dalam keterangan resminya, Sabtu (17/1/2026).
Dian menjelaskan, pembacaan tarot kerap menghadirkan narasi yang membuat individu seolah mampu memprediksi atau memahami apa yang sedang terjadi dalam hidupnya. Hal ini dapat membantu menurunkan kecemasan dan berfungsi sebagai salah satu coping mechanism.
“Ketika menghadapi sesuatu yang tidak bisa diprediksi, kecemasan muncul. Tarot menawarkan narasi tentang diri individu tanpa penilaian, yang bagi sebagian orang terasa menenangkan,” jelasnya.
Meski demikian, Dian mengingatkan penggunaan tarot perlu disikapi secara bijak. Jika dijadikan sarana refleksi dan evaluasi diri yang mendorong perkembangan personal, tarot tidak menjadi masalah.
Namun, ketergantungan berlebihan justru berpotensi menghambat kemampuan individu dalam memecahkan masalah. “Ketika seseorang terlalu mengandalkan pemikiran-pemikiran dari tarot, hal itu bisa menghambat problem solving. Individu menjadi pasif karena merasa apa yang terjadi sudah ditakdirkan,” tuturnya.
Dalam psikologi, kondisi tersebut dikenal sebagai self-fulfilling prophecy, yakni ketika keyakinan terhadap suatu prediksi justru mengarahkan perilaku individu sehingga prediksi tersebut benar-benar terjadi.
“Bukan karena ramalannya akurat, tetapi karena individu sudah meyakininya sejak awal, sehingga energi dan perilakunya mengarah pada hal tersebut,” tambah Dian.
Sebagai alternatif, Dian menyarankan berbagai cara sehat dalam mengelola stres secara mandiri, seperti journaling, manajemen waktu, mengonsumsi makanan bergizi, serta berolahraga secara rutin. Namun, apabila seseorang mengalami krisis emosional dan merasa tidak mampu mengatasinya sendiri, bantuan profesional menjadi langkah terbaik.
“Datang ke psikolog atau psikiater adalah pilihan yang tepat untuk mendapatkan penanganan yang sesuai dan berbasis ilmiah,” pungkasnya.
Reporter: Amanah|Editor: Arifin BH




