SURABAYA ( LENTERA ) - Kebiasaan mengonsumsi camilan kerap dipandang negatif karena dianggap merusak pola makan. Namun sebenarnya, bila dilakukan pada waktu yang tepat dan dengan jenis camilan yang sehat, nyemil justru bermanfaat untuk menjaga stamina, meningkatkan konsentrasi, serta menstabilkan kadar gula darah sepanjang hari.
Dokter spesialis gizi, dr. Diana Felicia Suganda, M.Kes, Sp.G.K., menjelaskan bahwa pola makan seimbang tetap mengacu pada tiga waktu makan utama, yaitu sarapan, makan siang, dan makan malam. Meski demikian, tubuh tetap memerlukan asupan tambahan berupa makanan selingan di antara waktu makan tersebut.
“Nah, kalau untuk nyemil, biasanya aku kasih jam sembilan atau sepuluh pagi sama jam tiga atau empat sore,” ujarnya dalam sebuah acara di Central Park Mall, Jakarta Barat pekan lalu.
Menurut dr. Diana, pada jam-jam tertentu, seperti di antara sarapan dan makan siang atau antara makan siang dan malam, tubuh membutuhkan asupan tambahan agar tetap bertenaga. Karena itu, camilan dibutuhkan sebagai pengisi energi sementara sebelum waktu makan berikutnya. Namun, ia mengingatkan bahwa manfaat nyemil sangat bergantung pada jenis makanan yang dikonsumsi.
Ia menyoroti kebiasaan mengonsumsi camilan tinggi gula yang justru dapat berdampak negatif. “Kalau kamu kasih tinggi gula, begitu masuk gula, segar sebentar. Tapi ngantuknya cepat banget,” ujarnya.
Lonjakan gula darah memang bisa membuat tubuh terasa segar dalam waktu singkat, tetapi efek tersebut cepat menurun. Akibatnya, tubuh kembali merasa lemas, mudah mengantuk, dan sulit berkonsentrasi, terutama saat beraktivitas atau bekerja.
Untuk menghindari kondisi tersebut, dr. Diana menyarankan camilan yang mengandung serat. “Kalau ada seratnya, kita lebih terjaga. Jadi segar, tapi segarnya lama. Enggak gampang ngantuk lagi,” tuturnya.
Serat membantu memperlambat penyerapan gula ke dalam darah, sehingga energi dilepaskan secara bertahap dan tubuh tetap terasa segar lebih lama.
Dalam hal pilihan camilan, dr. Diana menyebut buah sebagai rekomendasi utama. “Buah-buahan pasti, biasanya aku anjurin buah-buahan,” tuturnya. Menurutnya, buah memiliki kandungan serat yang tinggi dan memberikan banyak manfaat bagi tubuh.
“Buah itu sebenarnya seratnya tinggi. Serat tinggi bikin kita kenyang, pencernaan lancar, jadi next makannya juga enggak terlalu heboh,” jelasnya. Dengan rasa kenyang yang lebih tahan lama, keinginan untuk makan berlebihan saat waktu makan utama pun dapat ditekan.
Selain buah, camilan berbasis protein juga sangat dianjurkan. “Kalau enggak buah-buahan, protein. Protein bisa dari susu, kacang-kacangan, atau biji-bijian,” ujar dr. Diana.
Ia menambahkan bahwa protein berperan besar dalam mengendalikan rasa lapar dan keinginan untuk ngemil berlebihan. “Protein tuh sebenarnya bikin kenyang, sehingga nanti next-nya enggak terlalu craving macam-macam,” katanya.
Lebih lanjut, dr. Diana menekankan bahwa tujuan utama nyemil bukan sekadar mengganjal perut, melainkan menjaga kestabilan gula darah.“Intinya kita nyemil itu supaya gula darah kejaga. Jadi next makannya enggak kalap,” ujarnya.
Tanpa camilan di sela waktu makan, rasa lapar bisa menumpuk dan membuat seseorang makan dalam porsi berlebihan saat makan utama.
Dengan nyemil yang tepat, tubuh mendapatkan asupan energi kecil secara berkala sehingga metabolisme tetap berjalan stabil. Pola ini juga membantu menjaga fokus, suasana hati, dan performa tubuh sepanjang hari. Dr. Diana menegaskan bahwa nyemil tidak perlu dihindari, asalkan dilakukan dengan cara yang benar.
Waktu yang tepat, pilihan camilan yang sehat, serta porsi yang wajar menjadi kunci utama. Camilan kaya serat dan protein membantu tubuh tetap bertenaga, tidak mudah lemas, serta menjaga pola makan lebih terkontrol. Dengan demikian, nyemil bukan lagi dianggap sebagai musuh diet, melainkan bagian penting dari gaya hidup sehat untuk mendukung keseimbangan energi dan kesehatan tubuh secara menyeluruh. (Inna – UINSA berkontribusi dalam tulisan ini)




