Diduga Keracunan MBG, Puluhan Siswa dan Guru SMP Muhammadiyah Playen Gunung Kidul Mual hingga Diare
YOGYAKARTA (Lentera) - Puluhan siswa, sembilan guru, dan kepala sekolah SMP Muhammadiyah Playen, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengalami keluhan mual hingga diare, karena diduga keracunan makan bergizi gratis (MBG) yang dikonsumsi, Jumat (23/1/2026).
Pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) akan melakukan investigasi dan bertanggung jawab.
"Kronologi diare massal, Minggu (25/1/2026) malam kami mendapati pertama guru kami akan izin dengan gejala muntah, diare, mual, badan gemeter, tulang sakit. Setelah laporan tersebut ternyata ada 9 guru yang merasakan sama, termasuk saya sendiri," kata Kepala Sekolah SMP Muhammadiyah Playen, Dwi Riastuti saat ditemui di sekolah melansir Kompas.com, Selasa (27/1/2026).
Lalu pihaknya melakukan pendataan pada anak-anak peserta didik, diketahui ada puluhan anak yang merasakan gejala sama.
"Hingga data yang masuk 48 anak memiliki gejala yang sama dimulai pada Jumat sore, kami pun merasakan pada hari Jumat. Tapi awalnya dikira hanya sakit pribadi," ungkapnya.
Pihaknya lalu melakukan koordinasi ke beberapa pihak, untuk mengetahui penyebab pasti. Sejumlah siswa dan guru, memilih tidak masuk sekolah, pada Senin (26/1/2026). Sesuai arahan Dinas Pendidikan, sekolah memulangkan lebih cepat para murid sekitar pukul 10.30 WIB, dari seharusnya jam 15.30 WIB.
"Hari ini juga akan lebih siang sekitar jam 13.00 WIB, sesuai arahan sampai kondisinya semua membaik," kata Dwi.
Salah seorang guru, Septianingrum mengatakan, masih ada beberapa siswa yang tidak berangkat sekolah pada Senin pagi.
"Untuk hari Senin kemarin ada 38 siswa tidak masuk, dan 6 siswa izin pulang karena kondisi bolak-balik ke belakang (WC), dan ada yang bertahan tetapi kondisinya beberapa kali ke belakang," bebernya.
"Ada 3 guru dan kepala sekolah juga tidak masuk kemarin," lanjut Septianingrum.
Dia mengatakan guru tidak mendapatkan MBG, namun karena saat itu ada dua menu yang diterima basah dan kering. Ada sebagian siswa yang mengonsumsi satu menu.
"Ada yang makan kering, dan ada yang mengonsumsi yang basah. Nah yang tidak dimakan kita manfaatkan, kami makan bersama. Daripada mubazir maka kami konsumsi," terangnya.
"Saat kami makan enak, dan tidak ada yang menyengat. Cuma kenapa kok bisa sakit yang sama. setelah kita telusuri dari itu, tetapi kami tidak menyalahkan MBG. Tetapi indikasinya kan itu," kata Septianingrum.
Sementara itu, Kepala SPPG Playen, Logandeng, Rama Jatu mengatakan pihaknya sudah menerima informasi terkait laporan dugaan keracunan di SMP Muhammadiyah. MBG dimakan, Jumat (23/1/2026), dan masih melaporkan gejala diare dan sakit perut, pada Senin (26/1/2026).
"Saat ini kita lagi proses pendataan dan investigasi, apakah ada kaitannya MBG dengan dugaan keracunan yang ada. Dan kami berempati dan bertanggung jawab apabila ada siswa-siswi yang di rumah sakit," kata Rama.
Adapun menu nasi, ayam lada hitam, tahu goreng, timlo kering, dan kelengkeng. Serta pembagian menu kering untuk hari libur, yakni telur asin, roti, pisang, dan susu UHT.
"Kami selalu usahakan sesuai standar SOP," katanya.
Editor: Arief Sukaputra




