15 February 2026

Get In Touch

Sanae Takaichi Menang Telak Pemilu Jepang, Janji Ekonomi Lebih Tangguh

Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi saat menghadiri penghitungan suara pemilihan umum atau pemilu Jepang di Tokyo, Minggu (8/2/2026) -REUTERS
Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi saat menghadiri penghitungan suara pemilihan umum atau pemilu Jepang di Tokyo, Minggu (8/2/2026) -REUTERS

TOKYO (Lentera) -Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi merayakan kemenangan besar dalam pemilihan umum yang berlangsung pada Minggu (8/2/2026). 

Berdasarkan hasil proyeksi, koalisi partai berkuasa berhasil mengamankan mayoritas dua pertiga kursi di majelis rendah yang sangat berpengaruh.

Kemenangan ini memberikan mandat yang kuat bagi Takaichi untuk menjalankan agenda konservatifnya selama empat tahun ke depan.

Langkah Takaichi untuk mempercepat pemilu bulan lalu terbukti membuahkan hasil. Media lokal memproyeksikan Partai Demokrat Liberal (LDP) pimpinannya meraih sekitar 300 dari 465 kursi yang diperebutkan. 

Bersama mitra koalisinya, blok pemerintah diperkirakan mengantongi setidaknya 310 kursi, sebagaimana dilansir AFP.

Di tengah euforia kemenangan, pasar keuangan kini menyoroti langkah Takaichi terkait utang publik Jepang yang sangat besar. 

Perdana menteri perempuan pertama Jepang berusia 64 tahun itu sebelumnya mengisyaratkan kemungkinan pemotongan pajak dan peningkatan pengeluaran negara.

"Kami secara konsisten menekankan pentingnya kebijakan fiskal yang bertanggung jawab dan proaktif," tegas Takaichi pada Minggu (8/2/2026) malam.

Dia menambahkan, pemerintah akan tetap menjaga keberlanjutan fiskal sembari memastikan investasi yang diperlukan. 

"Sektor publik dan swasta harus berinvestasi. Kami akan membangun ekonomi yang kuat dan tangguh," lanjutnya.

Hubungan dengan China memanas

Selain ekonomi, kawasan Asia-Pasifik kini mengawasi arah kebijakan luar negeri Takaichi, terutama hubungannya dengan China. 

Takaichi dikenal sebagai sosok "elang" yang kerap bersikap keras terhadap Beijing.

Pada November 2025, pernyataannya mengenai Taiwan sempat memicu kemarahan pemerintah China. 

Dia bahkan sempat mengisyaratkan bahwa Jepang bisa melakukan intervensi militer jika Beijing mencoba mengambil alih Taiwan dengan kekerasan.

Ketegangan ini diperparah dengan kunjungannya ke Kuil Yasukuni dan sambutan hangatnya terhadap Presiden AS Donald Trump baru-baru ini. 

Sebagai balasan, Beijing sempat memanggil duta besar Tokyo dan menarik kembali dua panda terakhir milik Jepang bulan lalu.

Namun, pengamat politik dari Syracuse University, Margarita Estevez-Abe, menilai Takaichi kini memiliki ruang untuk meredakan ketegangan.

"Sekarang dia tidak perlu khawatir tentang pemilu apa pun hingga 2028. Jadi skenario terbaik bagi Jepang adalah Takaichi mengambil napas dalam-dalam dan fokus memperbaiki hubungan dengan China," ungkap Estevez-Abe kepada AFP.

Warna baru

Dikutip dari Kompas, Takaichi membawa warna baru bagi LDP yang sempat kehilangan dukungan akibat isu korupsi dan kenaikan harga. 

Meski merupakan pemimpin perempuan pertama, dia tetap memegang teguh nilai-nilai konservatif.

Salah satunya, dia menentang revisi undang-undang yang mewajibkan pasangan suami-istri menggunakan nama belakang yang sama, aturan yang selama ini membuat perempuan Jepang cenderung mengikuti nama suami mereka.

Di balik pandangan politiknya yang konservatif, Takaichi memiliki sisi unik yang memikat pemilih muda. 

Mantan pemain drum heavy metal ini adalah pengagum "Iron Lady" Inggris, Margaret Thatcher.

Kepopulerannya di kalangan anak muda terlihat dari bagaimana para penggemar mengikuti gaya berpakaiannya hingga video viral saat ia menari lagu K-pop bersama Presiden Korea Selatan (*)

Editor: Arifin BH

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.