10 February 2026

Get In Touch

Produksi Susu Sapi Nasional Rendah, Akademisi UB Tawarkan Solusi 'Nutrisi Presisi'

Ilustrasi: Ternak sapi di wilayah Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang. (Santi/Lentera)
Ilustrasi: Ternak sapi di wilayah Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang. (Santi/Lentera)

MALANG (Lentera) - Produksi susu sapi nasional masih rendah hingga membuat Indonesia masih harus melakukan impor. Hal tersebut diungkap oleh Akademisi Universitas Brawijaya (UB), yang juga menawarkan solusi melalui model nutrisi presisi, agar produktivitas susu sapi perah dalam negeri bisa meningkat lebih banyak.

"Kita tahu susu adalah produk pangan yang bergizi tinggi. Namun sampai saat ini produksi susu nasional baru bisa memenuhi hanya sekitar 20 persen. Sedangkan 80 persennya adalah impor," ujar Guru Besar Fakultas Peternakan (Fapet) Universitas Brawijaya (UB) Prof. Dr. Ir. Mashudi, M.Agr.Sc., IPM., ASEAN Eng., dikutip pada Selasa (10/2/2026).

Dijelaskannya, persoalan utama rendahnya produksi susu di Indonesia terletak pada ketidaksesuaian lingkungan dan pola pakan sapi perah yang dipelihara di wilayah tropis.

"Sapi perah yang ada di Indonesia, seperti Friesian Holstein (FH) dan peranakannya, itu adalah sapi ras dari wilayah temperate atau sedang. Mereka bisa berproduksi optimal kalau lingkungan dan pakannya sesuai," kata Prof. Mashudi.

Ia menyebutkan, hampir 90 persen produksi susu lokal di Indonesia justru berasal dari peternakan rakyat, bukan dari industri peternakan skala besar. Artinya, peningkatan produktivitas sangat bergantung pada efisiensi dan pengetahuan peternak kecil dalam mengelola ternaknya.

Menurutnya, di negara asal seperti Eropa, Australia, dan Selandia Baru, sapi FH bisa menghasilkan susu hingga 25 liter per ekor per harinya. Sementara di Indonesia, rata-rata produksi hanya berkisar 10-12 liter per ekor per hari.

"Lingkungan di Indonesia itu tropis, suhu tinggi, lembap, dan kualitas rumputnya jauh berbeda dengan di negara temperate. Itu sangat berpengaruh terhadap produktivitas susu," jelasnya.

Selain faktor lingkungan, Prof. Mashudi menyoroti pola penyuluhan nutrisi sapi perah di Indonesia yang masih menganut paradigma 'protein kuantitatif'. Dalam praktiknya, peternak didorong untuk terus menambah kadar protein pakan demi meningkatkan produksi susu.

"Memang benar, kalau proteinnya dinaikkan, produksi susu bisa naik. Tapi hanya sampai batas tertentu. Setelah itu tidak efisien," katanya.

Ia menerangkan, protein yang masuk ke rumen sapi sebagian besar akan dirombak oleh mikroba menjadi amoniak. Jika tidak diimbangi dengan energi yang cukup, amoniak tersebut akan terbuang menjadi gas dan berdampak pada lingkungan.

Sebagai solusi, Prof. Mashudi mengusung konsep Peternakan Model Nutrisi Presisi Ruminansia Perah (NPRP). Model ini tidak sekadar menambah protein, tetapi menekankan pada pemberian protein dan asam amino esensial yang terlindungi (bypass) agar dapat langsung diserap di usus halus.

"Asam amino seperti lisin dan metionin itu harus bisa sampai ke usus halus, karena di situlah penyerapan terjadi dan menjadi bahan pembentuk susu," jelasnya.

Untuk memastikan asam amino tersebut tidak terurai di rumen, digunakan senyawa protektor atau metode enkapsulasi, sehingga nutrisi tersebut dapat tersalurkan menuju usus halus. Menurutnya, pendekatan ini jauh lebih efisien dibanding sekadar meningkatkan kadar protein pakan.

Jika diterapkan, model ini tidak hanya meningkatkan produktivitas susu, tetapi juga lebih ramah lingkungan dan menekan biaya pakan peternak. Pasalnya, protein merupakan komponen pakan yang mahal.

Namun Prof. Mashudi menyebut, tantangan penerapan model ini ada pada faktor biaya dan harga susu yang belum sebanding dengan investasi nutrisi tambahan dari peternak. Kendati demikian, ia optimistis, jika efisiensi pakan bisa dipahami dan diterapkan, peternak rakyat akan mendapatkan manfaat ekonomi yang lebih baik.

"Kalau selama ini protein ditambah terus tapi terbuang, itu pemborosan. Dengan nutrisi presisi, pakan jadi lebih efisien, produksi naik, dan pendapatan peternak juga bisa meningkat," pungkasnya. (*)

 

Reporter: Santi Wahyu
Editor : Lutfiyu Handi

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.