10 February 2026

Get In Touch

Dinkes Kota Malang Pasang Target Stunting Turun Hingga 50 Persen di 2026

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Kota Malang, Muhammad Zamroni. (Santi/Lentera)
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Kota Malang, Muhammad Zamroni. (Santi/Lentera)

MALANG (Lentera) - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang menargetkan penurunan angka stunting hingga 50 persen pada tahun 2026 ini. Melalui strategi New Zero Stunting, target tersebut dipasang setelah melihat dinamika data prevalensi stunting dalam 3 tahun terakhir yang bersumber dari 2 metode pendataan berbeda.

"Berdasarkan data bulan timbang, prevalensi stunting di Kota Malang pada 2023 tercatat 9,2 persen, turun menjadi 8,1 persen pada 2024, dan sedikit naik menjadi 8,48 persen di 2025," ujar Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Kota Malang, Muhammad Zamroni, Selasa (10/2/2026).

Namun, jika mengacu pada hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), Zamroni menyebutkan angka yang muncul menunjukkan tren berbeda. Pada 2023, prevalensi stunting Kota Malang berdasarkan SSGI berada di angka 17,3 persen, kemudian naik menjadi 22,7 persen di 2024.

"Sekarang kebijakan pemerintah pusat, SSGI tidak dilaksanakan setiap tahun tetapi dua tahun sekali. Sehingga untuk 2025 kami tidak memakai SSGI, melainkan laporan bulan timbang yang dilakukan puskesmas dan posyandu melalui e-PPGBM," jelas Zamroni.

Karena tidak ada pelaksanaan SSGI pada 2025, Dinkes Kota Malang menggunakan data bulan timbang sebagai acuan pemantauan. Dari data tersebut, angka 8,48 persen dinilai masih tergolong kecil dan berada di bawah target nasional yang ditetapkan pemerintah pusat, yakni 14 persen.

Meski demikian, Dinkes tetap menjadikan data SSGI sebagai rujukan utama dalam membaca gambaran besar stunting. Berdasarkan data SSGI 2024 yang berada di angka 22,7 persen, Dinkes Kota Malang menargetkan pada 2026 angka tersebut bisa ditekan hingga 11,7 persen.

"Kami optimistis bisa menuntaskan stunting melalui strategi New Zero Stunting di 2026. Target kami penurunan signifikan hingga 50 persen, pokoknya di bawah 14 persen sesuai target pemerintah pusat," tegasnya.

Lebih lanjut Zamroni mengakui, tantangan penanganan stunting semakin kompleks. Faktor sanitasi, perilaku masyarakat, hingga kondisi ekonomi turut mempengaruhi. Namun ia menekankan penyebab stunting tidak semata-mata karena kemiskinan.

"Yang paling berpengaruh justru pola asuh. Ini yang sering luput dipahami masyarakat," ujarnya.

Melalui konsep New Zero Stunting, Dinkes Kota Malang menekankan pencegahan sejak dini agar tidak ada penambahan kasus stunting baru, terutama pada kelompok balita. Program ini menyasar pendampingan berkelanjutan dan intervensi langsung kepada kelompok berisiko, mulai dari ibu hamil, ibu menyusui, hingga balita.

Perbedaan utama New Zero Stunting dengan program sebelumnya terletak pada fokus intervensi yang lebih menyentuh langsung sasaran. Tujuannya agar balita yang sudah mengalami stunting tidak kembali berada pada kondisi yang sama.

Penanganan juga difokuskan pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) melalui pemenuhan nutrisi optimal seperti ASI eksklusif, pemberian makanan pendamping ASI kaya protein hewani, serta penerapan perilaku hidup bersih dan sehat.

Selain itu, pemantauan tumbuh kembang dilakukan secara rutin melalui posyandu dan puskesmas, termasuk memastikan kelengkapan imunisasi serta edukasi berkelanjutan kepada orang tua. (*)

 

Reporter: Santi Wahyu
Editor : Lutfiyu Handi

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.