17 February 2026

Get In Touch

Puluhan Santri Ponpes Al-Hijrah Ngawi Diduga Keracunan Menu MBG

Dokter memeriksa kondisi salah satu santri yang diduga keracunan menu MBG di Ngawi, Minggu (15/2/2026). (foto:ist/beritajatim.com)
Dokter memeriksa kondisi salah satu santri yang diduga keracunan menu MBG di Ngawi, Minggu (15/2/2026). (foto:ist/beritajatim.com)

NGAWI (Lentera) - Sebanyak 30 santri Pondok Pesantren Al-Hijrah di Kabupaten Ngawi masih menjalani perawatan medis, setelah diduga mengalami keracunan menu Makan Bergizi Gratis (MBG). 

Para pasien dirawat di tiga puskesmas dan satu rumah sakit rujukan, dengan kondisi yang dilaporkan terus membaik.

Data terbaru menyebutkan, Puskesmas Padas menjadi lokasi perawatan terbanyak. Dari sebelumnya 36 pasien, kini 19 santri masih dirawat. Sebanyak 17 santri telah diperbolehkan pulang, pada Sabtu (14/2/2026) malam. 

Pihak puskesmas merencanakan 16 santri lainnya dipulangkan dan rawat jalan, pada Minggu (15/2/2026) siang, sementara tiga pasien masih menjalani observasi karena keluhan mual dan pusing.

Kepala Puskesmas Padas, dr. Zain Ratna Priyanto menjelaskan bahwa tren pemulihan pasien berjalan positif. 

“Sebelumnya ada 36 pasien, sekarang tinggal 19. Rencananya 16 akan dipulangkan siang ini, tiga lainnya masih perawatan,” ujarnya, Minggu (15/2/2026) mengutip beritajatim.com, Senin (16/2/2026).

Di Puskesmas Kasreman, jumlah pasien turun dari 12 menjadi 4 orang. Puskesmas Ngawi Purba kini merawat 3 pasien dari sebelumnya 10 orang. Sementara itu, di RSUD dr. Soeroto, tersisa 4 pasien dari sebelumnya 9 orang yang dirujuk.

Salah satu orang tua santri, Tutik menyampaikan rasa lega karena kondisi anaknya membaik. 

“Akan saya bawa pulang karena sudah sembuh. Soal kepastian penyebabnya makan apa belum tahu, yang penting anak saya sudah sembuh,” tuturnya.

Pantauan di lingkungan Ponpes Al-Hijrah hingga Minggu siang menunjukkan, ramainya orang tua santri yang datang menjemput. Namun, wartawan belum diperkenankan masuk ke area pesantren. Di sisi lain, SPPG Karangtengah Prandon yang sebelumnya menyalurkan MBG ke pesantren terlihat sepi aktivitas.

Diberitakan, 67 santri dilaporkan mengalami gejala keracunan diduga usai menyantap MBG, pada Sabtu (14/2/2026) siang. Hingga kini, penelusuran penyebab pasti masih berlangsung, sementara fokus layanan kesehatan diarahkan pada pemulihan seluruh pasien.

Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Ngawi, Heri Nurfanudin menyatakan puluhan santri Pondok Pesantren Al-Hijrah mengalami gejala yang mengarah pada dugaan keracunan makanan. 

Para santri tersebut, saat ini menjalani perawatan dan observasi di sejumlah fasilitas kesehatan.

“Memang untuk anak-anak, khususnya yang ada di Pondok Al-Hijrah ini, yang kami deteksi itu tersebar di beberapa tempat. Mulai dari Puskesmas Ngawi Purba, kemudian Kasreman, Padas, maupun di Rumah Sakit Soeroto,” ujar Heri Nurfanudin, mengutip beritajatim.com, Sabtu (14/2/2026).

Ia menjelaskan, keluhan mulai dirasakan sejak sekitar pukul 00.00 WIB. Gejala yang muncul hampir sama pada seluruh pasien, yakni mual, muntah, pusing, sakit perut, demam, hingga diare. Kondisi tersebut diduga berkaitan dengan asupan makanan, yang dikonsumsi sebelumnya.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Ngawi, sebanyak 10 santri dirawat di Puskesmas Ngawi Purba, 12 santri di Puskesmas Kasreman, dan 36 santri di Puskesmas Padas. Selain itu, terdapat santri yang menjalani perawatan di RSUD Dokter Soeroto, dengan sebagian besar masih dalam status observasi.

“Total sementara yang kami data kurang lebih ada 60-an santri. Untuk dugaan awal, berdasarkan gejala memang mengarah ke keracunan makanan, namun kepastiannya masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium,” jelas Heri.

Terkait sumber makanan, Heri menyebut para santri mengonsumsi beberapa jenis makanan dalam satu hari, mulai dari makanan pagi, menu Makan Bergizi Gratis (MBG) saat siang, hingga makanan dari pondok pada sore harinya. Hal ini membuat sumber pasti dugaan keracunan masih dalam penelusuran. 

“Apakah dari MBG atau bukan, kami belum bisa memastikan. Karena hampir bersamaan, anak-anak juga makan dari pondok. Untuk itu kami menunggu hasil laboratorium,” tambahnya.

Usai menerima laporan sekitar pukul 09.00 WIB, Dinas Kesehatan Ngawi langsung melakukan langkah cepat berupa penanganan medis, tindakan preventif, serta pengambilan sampel. Sampel yang diamankan meliputi sisa makanan, lauk, serta sisa muntahan pasien.

“Sampel sudah kami ambil dan akan dikirim ke Surabaya untuk pemeriksaan laboratorium. Terkait asal SPPG penyedia MBG, saat ini masih kami telusuri dan akan kami sampaikan lebih lanjut,” pungkas Heri. 

 

 

Editor: Arief Sukaputra

 

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.