SURABAYA (Lentera) – Perayaan Tahun Baru Imlek bukan sekadar identik dengan barongsai, lampion merah, maupun tradisi berbagi angpao (红包, hóngbāo). Lebih dari itu, Imlek merupakan momen reflektif yang sarat makna pembaruan dan harapan akan kehidupan yang lebih baik.
Dosen Bahasa Mandarin Universitas Kristen Petra Surabaya, Dr. Olivia, S.E., M.A., menjelaskan, secara filosofis, Imlek merupakan titik balik siklus kehidupan. Perayaan ini menandai berakhirnya musim dingin dan datangnya musim semi dalam tradisi Tiongkok, yang dimaknai sebagai simbol kelahiran kembali dan awal yang baru.
“Imlek adalah momen transisi untuk menutup lembaran lama dan memulai siklus baru, mirip dengan perayaan tahun baru lainnya. Ini adalah waktu refleksi, pembaruan, dan mempererat relasi,” ujarnya, Senin (16/2/2026).
Salah satu tradisi yang melekat adalah membersihkan rumah sebelum hari perayaan. Tradisi ini bukan sekadar menjaga kebersihan, tetapi memiliki makna simbolis membuang kesialan dan keburukan tahun lalu agar siap menyambut keberuntungan baru.
"Menariknya, saat hari-H Imlek, aktivitas menyapu dihentikan sebagai simbol tidak membuang rezeki yang baru datang," tuturnya.
Makna simbolis juga tercermin dalam hidangan khas. Kue keranjang atau Nián Gāo (年糕) memiliki bunyi yang serupa dengan kata “tinggi” (高, gāo), yang melambangkan harapan akan peningkatan derajat, rezeki, dan kualitas hidup di tahun mendatang.
Selain itu, ikan menjadi sajian wajib. Dalam bahasa Mandarin, ikan (鱼, yú) memiliki pelafalan yang sama dengan kata 余 (yú) yang berarti “kelebihan”.
"Kehadiran ikan di meja makan melambangkan doa agar setiap tahun selalu ada surplus rezeki, bukan sekadar kecukupan," tambahnya.
Ia menambahkan, fenomena hujan yang kerap menyertai Imlek juga memiliki makna tersendiri. Secara ilmiah, di Tiongkok Imlek bertepatan dengan peralihan musim dingin ke musim semi, saat salju mulai mencair menjadi hujan.
Sementara di Indonesia, perayaan ini umumnya jatuh pada puncak musim penghujan. "Namun dalam perspektif budaya Tionghoa, hujan dimaknai sebagai simbol banjir rezeki. Alih-alih dianggap sebagai hambatan, hujan justru disyukuri sebagai pertanda keberkahan," tambahnya.
Olivia mengungkapkan, tahun 2026 dalam kalender Tionghoa merupakan Tahun Kuda Api. Dalam filosofi Tiongkok, unsur api yang 旺盛 (wàng shèng) melambangkan energi yang membara, perkembangan pesat, kemakmuran, serta vitalitas tinggi. Sementara kuda menjadi simbol kecepatan, ketangkasan, dan daya juang.
"Kombinasi keduanya memberi pesan kuat bahwa tahun ini menjadi momentum untuk bergerak cepat, menyelesaikan pekerjaan yang tertunda, dan berani mengambil langkah maju dengan penuh semangat," ungkapnya.
Ungkapan klasik 躍馬迎福,駿騰迎祥 (Yuè mǎ yíng fú, jùn téng yíng xiáng) yang berarti “Kuda yang berlari kencang menyongsong keberuntungan; kuda yang cepat menandai masa depan yang baik” merefleksikan optimisme di tahun ini.
Lebih jauh, esensi Imlek juga terletak pada upaya memperbaiki relasi: hubungan dengan Langit (天, tiān), Bumi (地, dì), dan sesama manusia (人, rén). Prinsip 天时地利人和 (tiānshí dìlì rén hé) menekankan pentingnya harmoni antara waktu yang tepat, tempat yang mendukung, dan hubungan antarmanusia yang selaras untuk mencapai kesuksesan.
"Melalui momentum Imlek 2026, masyarakat diajak untuk menjadikan pergantian tahun ini sebagai titik pembaruan diri, menjadi pribadi yang lebih rukun, tangguh, dan siap menyongsong masa depan dengan energi baru," tutupnya. (*)
Reporter: Amanah
Editor : Lutfiyu Handi






