SURABAYA (Lentera) – Hasil rukyatul hilal penentuan awal Ramadhan yang digelar di puncak Twin Tower UIN Sunan Ampel Surabaya (UINSA) OASA, menunjukkan posisi hilal di Surabaya masih berada di bawah ufuk.
Kegiatan tersebut dipimpin Ketua Program Studi Ilmu Falak UINSA, Siti Tatmainul Qulub bersama dosen, mahasiswa, serta tim Laboratorium Fakultas Syariah dan Hukum.
Berdasarkan perhitungan hisab, tinggi hilal tercatat minus 1 derajat 16 menit dengan elongasi sekitar 1 derajat 13 menit. Angka itu belum memenuhi kriteria MABIMS yang mensyaratkan tinggi minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat.
“Secara astronomis, hari ini hilal mustahil terlihat karena sudah terbenam lebih dulu sebelum matahari,” ungkap Siti, Selasa (17/02/2026).
Dalam proses pengamatan, UINSA menggunakan delapan alat, terdiri dari dua teleskop (robotik dan manual), dua teodolit, serta dua teropong binokuler.
Siti menjelaskan, apabila hilal tidak terlihat, maka keesokan hari digenapkan menjadi tanggal 30 dan 1 Ramadhan jatuh pada lusa. Meski demikian, keputusan resmi tetap menunggu hasil sidang isbat pemerintah.
“Secara umum, posisi hilal di seluruh Indonesia berada antara minus 2 hingga minus 3 derajat, sehingga sangat kecil kemungkinan terlihat. Kita menunggu keputusan resmi pemerintah,” pungkasnya.
Reporter: Pradhita/Editor: Ais






