MALANG (Lentera) -Mengangkat identitas daerah, pelaku UMKM di Kota Malang mengincar pasar global pada momentum Ramadan 1447 Hijriah/2026 Masehi. Strategi tersebut diwujudkan melalui koleksi gamis bordir yang menonjolkan motif bunga khas Malang. Sebagai nilai tambah produk untuk menarik minat konsumen luar negeri.
"Untuk Ramadan tahun ini kami mengangkat tema gamis bordir dan tas makram. Kami ingin menghadirkan sesuatu yang berbeda sekaligus tetap membawa ciri khas daerah," ujar Founder Da Silva Batik, Claudio Dino Da Silva, dikonfirmasi pada Jumat (20/2/2026).
Dijelaskannya, produk-produk yang dipasarkan di Ramadan tahun sebelumnya telah menembus pasar luar negeri. Untuk koleksi batik reguler, pengiriman juga rutin dilakukan ke Malaysia dan Taiwan hampir setiap pekan.
Bahkan pada edisi Ramadan tahun lalu, menurutnya permintaan baju koko dari Malaysia tercatat cukup signifikan.
"Tahun ini memang belum ada permintaan luar negeri untuk edisi Ramadan karena puasa juga baru berjalan kurang dari sepekan. Tapi harapannya gamis yang kami angkat sekarang bisa sukses dan kembali diminati pasar internasional," katanya.
Sebagai strategi pemasaran, Dino mengaku mengandalkan promosi digital melalui konten media sosial serta siaran langsung di sejumlah platform marketplace. Pola pemasaran ini dinilai efektif menjangkau konsumen lintas daerah hingga luar negeri.
Lebih lanjut, dari sisi desain, menurutnya gamis edisi Ramadan 2026 menonjolkan bordir dengan motif bunga khas daerah. Identitas lokal tersebut dituangkan dalam detail sulaman sebagai pembeda dengan produk lain di pasaran.
Menariknya, untuk memperkenalkan koleksi tersebut ke publik, pihaknya menggandeng 2 petugas kebersihan perempuan dari gedung Malang Creative Center (MCC) sebagai bagian dari promosi. Langkah ini dilakukan untuk menunjukkan produk busana muslim tersebut dapat dikenakan berbagai kalangan.
Dari segi bahan, Dino mengaku terdapat perubahan dibanding tahun sebelumnya. Jika pada Ramadan lalu koleksi didominasi material shimmer, tahun ini lebih mengutamakan bahan silk yang kemudian dipadukan dengan bordir penuh tanpa ornamen batik.
Untuk pilihan warna, tersedia putih, krem, dan hitam. Namun berdasarkan tren yang berkembang di media sosial, menurutnya warna putih dan krem menjadi yang paling diminati konsumen saat ini.
"Kalau melihat tren di sosmed, warna putih dan krem memang sedang banyak dicari," tambahnya.
Dari sisi harga, Dino menyebut tas makram dibanderol mulai Rp250 ribu, sementara gamis bordir dipasarkan mulai Rp350 ribu. Hingga pekan pertama Ramadan, pesanan sudah tercatat sekitar 50 buah dan diperkirakan meningkat menjelang puncak musim belanja Lebaran.
"Biasanya mulai ramai di minggu ketiga Ramadan. Saat high season," ungkapnya.
Untuk pengiriman, pihaknya masih melayani luar kota hingga pekan kedua sebelum Lebaran. Memasuki pekan ketiga, distribusi difokuskan di wilayah Jawa Timur guna mengantisipasi keterlambatan pengiriman saat high season.
Reporter: Santi Wahyu|Editor: Arifin BH






