SURABAYA (Lentera) -Fenomena Generasi Z (Gen Z) yang enggan menduduki posisi manajerial tengah ramai diperbincangkan di media sosial dan menjadi perhatian dunia kerja. Tren ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga tercatat dalam berbagai riset global.
Jika dibiarkan, kondisi tersebut berpotensi memicu krisis kepemimpinan di tubuh perusahaan.
Menanggapi hal itu, dosen Program Studi Manajemen Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Surabaya (FBE Ubaya), Dr. Elsye Tandelilin, menyebut fenomena ini dalam kajian manajemen dikenal sebagai “The Management Gap” atau “Conscious Uncoupling from Management”.
“Bagi Gen Z, jabatan manajerial bukan lagi simbol prestasi, melainkan beban yang dinilai tidak sebanding dengan imbalan yang diterima,” jelas Elsye, Jumat (20/2/2026).
Ia menjelaskan, dalam jangka pendek fenomena ini dapat menimbulkan kekosongan kepemimpinan di level menengah (middle manager) serta meningkatkan angka pengunduran diri atau turnover. Sementara dalam jangka panjang, perusahaan berisiko menghadapi krisis suksesi pada level manajemen puncak.
Perusahaan dapat mengeluarkan biaya tambahan untuk rekrutmen eksternal dan pelatihan guna mengisi posisi yang kosong. Selain itu, absennya manajer sebagai “jembatan” antara visi strategis dan eksekusi teknis dinilai dapat menghambat inovasi organisasi.
“Ketiadaan peran penghubung ini bisa menyebabkan penurunan inovasi karena strategi tidak diterjemahkan secara efektif ke level operasional,” jelasnya.
Tak hanya itu, ia menyebut, lingkungan kerja juga terancam mengalami degradasi akibat ketergantungan tinggi terhadap manajer senior. Dalam jangka pendek, kondisi ini bisa memicu burnout pada pimpinan yang tersisa. Jika berlarut, fondasi manajerial perusahaan dapat menjadi rapuh.
Untuk merespons tren tersebut, Elsye merekomendasikan pendekatan Individual Contributor (IC), yakni memberikan jalur karier yang setara tanpa harus memegang jabatan manajerial.
“Jangan memaksa karyawan menerima promosi hanya demi kenaikan gaji. Sistem kompensasi sebaiknya berbasis kinerja, kontribusi, dan prestasi,” tegas Kepala Laboratorium Manajemen Sumber Daya Manusia Prodi Manajemen Ubaya tersebut.
Ia juga menyarankan optimalisasi teknologi untuk mengurangi beban administrasi yang selama ini menjadi salah satu alasan Gen Z menghindari posisi manajerial.
Di sisi lain, transformasi perlu dilakukan di level top management. Kepemimpinan yang empatik dan terbuka dinilai menjadi kunci untuk membangun budaya kerja yang lebih adaptif.
“Ciptakan komunikasi dua arah. Gen Z tidak hanya ingin diperintah, tetapi juga didengar. Mereka akan lebih termotivasi ketika pendapatnya dianggap relevan dan diterima pimpinan,” pungkasnya.
Reporter: Amanah|Editor: Arifin BH






