20 February 2026

Get In Touch

Ramadan Jadi Momentum Masjid Perkuat Pemberdayaan Ekonomi Umat

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (FEB Unair), Prof Dr Tika Widiastuti SE MSi.
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (FEB Unair), Prof Dr Tika Widiastuti SE MSi.

SURABAYA (Lentera) - Ramadan tidak hanya meningkatkan intensitas ibadah, tetapi juga mendorong lonjakan aktivitas ekonomi masyarakat, mulai dari konsumsi rumah tangga hingga penghimpunan zakat, infak, dan sedekah (ZIS).  Momentum ini dinilai menjadi peluang strategis bagi masjid untuk memperkuat perannya sebagai pusat pemberdayaan ekonomi umat, bukan sekadar tempat ibadah.

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (FEB Unair), Prof Dr Tika Widiastuti SE MSi, mengatakan peningkatan aktivitas religius selama Ramadan seharusnya diimbangi dengan penguatan literasi dan tata kelola ekonomi syariah di tingkat jamaah.

Menurutnya, sejak masa Rasulullah, masjid memiliki fungsi multidimensi, tidak hanya sebagai pusat ibadah, tetapi juga pusat pemerintahan, sosial, dan aktivitas ekonomi. Semangat historis tersebut, kata dia, perlu dihidupkan kembali dalam konteks kekinian.

“Ramadan membuat amalan kebaikan meningkat di semua sektor. Aktivitas masyarakat di masjid juga meningkat. Ini momentum untuk mentransformasi peran masjid agar lebih produktif dan berdampak jangka panjang,” ujarnya, Kamis (19/2/2026).

Prof Tika menjelaskan peningkatan konsumsi selama Ramadan merupakan fenomena yang wajar. Namun tanpa pemahaman yang memadai, kondisi tersebut berisiko mendorong perilaku konsumtif yang tidak sejalan dengan prinsip syariah.

Karena itu, masjid dapat mengambil peran sebagai pusat literasi ekonomi syariah, misalnya melalui edukasi sederhana tentang pengelolaan keuangan keluarga, etika konsumsi, hingga pemahaman zakat dan sedekah secara produktif.

Ia juga menekankan pentingnya pelibatan generasi muda, terutama Gen Z dan milenial, agar masjid tetap relevan dengan dinamika sosial saat ini. “Masjid bisa menjadi pusat literasi keagamaan sekaligus ekonomi syariah. Tidak hanya membahas ibadah wajib dan sunah, tetapi juga bagaimana aktivitas ekonomi tetap sesuai nilai-nilai syariah,” katanya.

Transformasi tersebut, lanjutnya, tidak harus dimulai dari program besar. Konsistensi dalam membangun kesadaran jemaah dan menjalankan program pemberdayaan secara terarah dapat menjadi langkah awal perubahan berkelanjutan.

Dalam aspek pengelolaan zakat, infak, dan sedekah (ZIS), Prof Tika menilai profesionalisme menjadi kunci. Tidak semua masjid memiliki kapasitas manajerial yang memadai, sehingga kemitraan dengan lembaga amil resmi dan berizin dinilai sebagai langkah strategis.

“Masjid bisa menjadi titik penghimpunan dana, tetapi pengelolaannya sebaiknya bekerja sama dengan lembaga ZISWAF yang memiliki izin. Ini penting agar dana umat tersalurkan secara adil dan tepat sasaran,” jelasnya.

Ia mengingatkan, dana Ramadan seharusnya tidak hanya dimanfaatkan untuk kegiatan konsumtif atau seremonial. Prinsip keadilan dan kemaslahatan perlu diwujudkan melalui program berkelanjutan, seperti penguatan usaha mikro jemaah atau pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar masjid.

Tak lupa, Prof Tika mendorong kolaborasi masjid dengan karang taruna, tokoh masyarakat, hingga komunitas lokal. Program seperti kajian tematik ekonomi syariah, pelatihan soft skill, hingga pendampingan usaha kecil dapat menjadi bagian dari agenda Ramadan.

"Jika dikelola secara terarah, Ramadan tidak hanya menjadi euforia tahunan, tetapi fondasi penguatan kemandirian ekonomi umat dalam jangka panjang," tutupnya. (*)

 

Reporter: Amanah
Editor : Lutfiyu Handi

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.