04 March 2026

Get In Touch

Obituari Try Sutristro: Wakil Presiden yang Tak Diinginkan Pak Harto

Dari kiri: Harmoko, Jenderal R. Hartono bersama Wakil Presiden Try Sutrisno dan Presiden Soeharto (Reuters)
Dari kiri: Harmoko, Jenderal R. Hartono bersama Wakil Presiden Try Sutrisno dan Presiden Soeharto (Reuters)

SURABAYA (Lentera) -Wakil Presiden ke-6 RI Try Sutrisno telah berpulang pada Senin (2/3/2026). Kenangan akan sosoknya yang loyal mengabdi kepada bangsa dan negara tidakpernah lekang.

Namun, sejatinya Try Sutrisno Wakil Presiden yang tak diinginkan Presiden Soeharto.

Pak Harto ketika itu sedang dekat-dekatnya dengan kelompok Islam yang sudah punya calonnya sendiri: BJ Habibie.

BJ Habibie bukan sosok sembarangan.

Dia adalah ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) sekaligus teknokrat yang mahir merancam pesawat.

Tapi sayang, Habibie yang didukung Partai Persatuan Pembangunan (PPP) tidak sreg dalam diri Tentara Nasional Indonesia (TNI).

TNI sudah punya calonnya sendiri: Try Sutrisno, mantan ajudan Presiden Soeharto yang ada Panglima ABRI.

Begitulah, Try Sutrisno pun jadi Wakil Presiden RI--walau tak dikehendaki oleh RI 1.

Try Sutrisno merupakan Wakil Presiden ke-6 Indonesia.

Dia menjabat selama lima tahun yakni 1993-1998, mendampingi Presiden Soeharto.

Sebelumnya, Try Sutrisno lama berkarier di militer.

Pak Try lahir di Surabaya, 15 November 1935.

Try bukan berasal dari keluarga berada, itulah kenapa masa kecilnya dia lalui dengan begitu keras.

Bahkan pernah menjadi loper koran hingga penjual rokok. Dia juga pernah berjualan air minum di stasiun.

Ketika berusia 21 tahun tepatnya tahun 1956, Try diterima menjadi taruna Akademi Teknik Angkatan Darat (Atekad).

Baru setahun menjalani pendidikan, Try Sutrisno sudah harus ikut berperang.

Saat itulah dia mengawali karier militer sebagai prajurit yang turut bertempur melawan Pemberontakan Pemerintahan Revolusioner Republik indonesia (PRRI).

Lima tahun setelahnya atau 1962, Try Sutrisno terlibat dalam Operasi Pembebasan Irian Barat.

Di situ dia mengenal Soeharto.

Saat itu Soeharto yang sudah berpangkat Mayor Jenderal ditunjuk Presiden Soekarno menjadi Panglima Komando Mandala yang berpangkalan di Sulawesi.

Kedekatan antara Try Sutrisno dengan Soeharto terjalin dari tugas tersebut.

Soeharto resmi menjadi Presiden RI kedua pada 1968.

Empat tahun setelahnya yakni 1974, Try Sutrisno ditunjuk Soeharto menjadi ajudannya.

Dari situlah karier Try Sutrisno meroket.

Tahun 1978, Try diangkat menjadi Kepala Komando Daerah Staf di KODAM XVI/Udayana.

Setahun kemudian, dia menjadi Panglima Daerah KODAM IV/Sriwijaya.

Empat tahun berikutnya, dia diangkat menjadi Panglima Daerah KODAM V/Jaya dan ditempatkan di Jakarta.

Saat menjabat sebagai Pangdam V/Jaya, Try Sutrisno menghadapi berbagai peristiwa besar, di antaranya Insiden Tanjung Priok dan peristiwa peledakan gedung BCA.

Tragedi Tanjung Priok pada 12 September 1984 melibatkan sejumlah tokoh dari unsur pemerintah dan masyarakat. Peristiwa tersebut menyebabkan 24 orang meninggal dunia dan 55 lainnya mengalami luka-luka.

Sementara itu, menurut investigasi Solidaritas Nasional atas Peristiwa Tanjung Priok (Sontak), jumlah korban meninggal dunia mencapai 400 orang.

Peristiwa tersebut melibatkan militer bersenjata melawan warga sipil dan menjadi pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di era pemerintahan Soeharto di masa Orde Baru.

Setelah penembakan yang menelan korban jiwa, Pangdam V/Jakarta Mayjen TNI Try Sutrisno bersama L. B. Moerdani dan Harmoko menyampaikan pernyataan terkait peristiwa Tragedi Tanjung Priok tersebut.

Agustus 1985 pangkat Try Sutrisno dinaikkan lagi menjadi Letnan Jenderal (Letjen).

Saat itu Try Sutrisno sekaligus diangkat menjadi Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (Wakasad) mendampingi Kasad Jenderal TNI Rudhini.

Sepuluh bulan kemudian tepatnya Juni 1986, Try Sutrisno diangkat menjadi Kasad menggantikan Rudhini.

Tak sampai setahun yakni April 1987, dia naik jabatan ke tingkat tertinggi menjadi Jenderal.

Karier Try Sutrisno moncer.

Jabatan Kasad diembannya selama 1,5 tahun hingga pada awal 1988 dia dipromosikan menjadi Panglima ABRI (Pangab) menggantikan Jenderal TNI LB Moerdani.

Try Sutrisno akhirnya memimpin ABRI selama 5 tahun, sejak 1988 hingga 1993.

Ketika itu ABRI masih terdiri atas institusi TNI AD, TNI AL, TNI AU, dan POLRI.

Banyak peristiwa penting yang terjadi selama Try Sutrisno memimpin, seperti meletusnya kembali pemberontakan GPK (Gerakan Pengacau Keamanan) di Aceh pada pertengahan 1989 menyusul dibubarkannya Kodam I/Iskandarmuda.

Peristiwa penting lainnya yakni pembantaian Santa Cruz di Timor Timur pada November 1991.

Try Sutrisno terpilih menjadi Wakil Presiden RI dalam sidang umum Majelis Permusyawaratan Rakyat tahun 1993.

Dia dicalonkan oleh Fraksi ABRI MPR-RI, mendahului pilihan terbuka dari Presiden Soeharto ketika itu.

Try Sutrisno tercatat menjadi wakil presiden Soeharto yang ketiga dari kalangan militer. Ia menjabat di kursi RI-2 persis setelah Sudharmono turun tahta.

Tahun 1998, mengutip Intisari tugas Try Sutrisno sebagai wapres berakhir.

Pak Try lalu digantikan oleh BJ Habibie yang terpilih sebagai wakil presiden melalui Sidang Umum MPR 1998.

Walau wakil presiden terus berganti-ganti lima tahun sekali, tidak demikian dengan jabatan presiden yang dari 1968 hingga 1998 adalah milik Soeharto seorang.

Inilah Try Sutrisno wakil presiden yang tak diinginkan Pak Harto (*)

Editor: Arifin BH

Share:

Punya insight tentang peristiwa terkini?

Jadikan tulisan Anda inspirasi untuk yang lain!
Klik disini untuk memulai!

Mulai Menulis
Lentera Today.
Lentera Today.