KOLOM (Lentera) -Pada suatu malam di bulan Ramadhan , Abuya Sayyid Muhammad Amaliki sibuk dengan banyak hal sehingga baru bisa istirahat pukul 02:00 dini hari.
Ketika beliau siap untuk istirahat tiba-tiba beliau berkata: “Andai saja ada nasi briyani yang masih panas”
Seorang santri tersenyum. Karena menganggap kalimat Abuya tersebut hanya sebuah candaan. Tetapi sesungguhnya Abuya memang sedang membayangkan nasi briyani.
Mungkin dikarenakan kesibukan beliau sejak habis tarawih tadi membuat beliau lapar lebih cepat.
Beberapa saat kemudian terdengar suara pintu gerbang bernunyi. Para santri terkejut karena ada tamu di tengah malam begini.
Taklama kemudian penjaga pintun gerbang datang memberi Abuya bahwa ada seorang uang bertemu dengan Abuya.
Santri tadi lupa siapa orang tersebut. Yang pasti dia orang warga Makkah murid Abuya.
Abuya pun mengizinkan masuk. Tamu tersbut masuk membawa nampan besar yang ditutup. Nampan itu diletakkan di hadapan Abuya yang sedang duduk di kursi.
Setelah ngobrol beberapa saat tamu tersebut pamit pulang.
Suasana masih sedikit tegang. Para santri merasa tidak wajar, seorang murid beraninya menemui beliau ditengah malam hanya untuk membei makanan.
Abuya meminta sorang murid untuk membuka nampa besar tersebut. Ternyata isinya nasi briyani yang masih panas.
Para santei semuanya tersenyum, Mereka sadar bahwa sepuluh menit yang lalu Abuya menginginkan nasi briyani.
Namun, tiba-tiba Abuya beristigfar berulangkali. Wajah beliau sangat sedih.
Beliau kemudian berkata: Andai saja tadi aku menginginkan ampunan Allah, andai saja aku tidak menginginkan nasi briyani”
Abuya merasa Allah mengabulkan keinginan beliau yang sekarang diselali karena kinginan itu adalah keinginan dunia.
Penyesalan itu membuat Abuya hilang selera makan. Beliau tampak sedih,ibarat kehilangan sesuatu yang sangat berharga.
Profil
Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki adalah salah seorang ulama Islam dari Arab Saudi yang lahir pada tahun 1365 H atau 1946 M di kota Mekkah dan berasal dari keluarga Al-Maliki Al-Hasani yang terkenal. Ayahnya adalah As-Sayyid Alawi, seorang ulama terkemuka di Mekkah dan merupakan salah satu penasihat Raja Faisal, raja Arab Saudi pada saat itu.
Sejak kecil Sayyid Muhammad sudah belajar Al-Quran, dan mengenyam pendidikan Agama Islam dari ayahnya sendiri yaitu Sayyid Alawi yang sudah masyhur kealimannya. Selain berguru pada ayahnya, Sayyid Muhammad juga berguru pada ulama-ulama besar seperti Syaikh Muhammad Yahya bin Aman, Habib Alwi bin Abdullah bin Syihab, Habib Umar bin Muhammad bin Smith, dan masih banyak lagi guru Sayyid Muhammad dari berbagai penjuru dunia.
Setelah selesai belajar kepada guru-gurunya, Sayyid Muhammad kemudian menyebarkan ilmunya dengan mengajar di Masjidil Haram dan di rumahnya sendiri. Pelajaran yang Sayyid Muhammad berikan tidak berfokus kepada ilmu tertentu, akan tetapi semua pelajaran yang diberikannya bisa di terima semua masyarakat baik masyarakat awam atau terpelajar, semua bisa menerima apa yang diberikan Sayyid Muhammad.
Berangkat dari hal itu, Sayyid Muhammad selalu menitikberatkan untuk membuat rumah yang lebih besar dan bisa menampung lebih dari 500 murid perhari yang biasa dilakukan selepas sholat Maghrib sampai Isya di rumahnya di Hay al Rashifah.
Begitu pula setiap bulan Ramadhan dan hari raya, Sayyid Muhammad selalu menerima semua tamu dan muridnya dengan tangan terbuka tanpa melihat golongan atau derajat. Di mata Sayyid Muhammad, semua tamu dan murid memiliki keistimewaan yang sama, semua mendapat penghargaan yang sama dan semua dapat mencicipi ilmu bersama-sama.
Diceritakan oleh: Hafidz Alattas, Sosial Worker|Editor: Arifin BH





