05 March 2026

Get In Touch

Harga Cabai di Kota Malang Naik, Petani Dibayangi Lonjakan Biaya Produksi

Lahan pertanian cabai di Kelurahan Lesanpuro, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang, Rabu (4/3/2026). (Santi/Lentera)
Lahan pertanian cabai di Kelurahan Lesanpuro, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang, Rabu (4/3/2026). (Santi/Lentera)

MALANG (Lentera) - Kenaikan harga cabai di Kota Malang belakangan ini membawa kabar baik bagi petani. Namun, di balik tren harga yang menguat dan membawa untung, para petani justru dibayangi lonjakan biaya produksi akibat serangan hama di musim hujan ini.

Anggota Kelompok Tani Sido Makmur, Kelurahan Lesanpuro, Kecamatan Kedungkandang, Sunarto mengatakan harga cabai pada panen pertama sempat berada di angka Rp75 ribu per kilogram.

"Kemudian panen yang kedua di Selasa (3/3/2026) kemarin itu mencapai Rp90 ribu," ujarnya ditemui di lahan pertanian setempat, Rabu (4/3/2026).

Dikutip dari laman Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok (Siskaperbapo) Disperindag Jawa Timur pada Rabu (4/3/2026), harga cabai rawit merah di Kota Malang mengalami kenaikan. Dari semula Rp93 per kilogram, menjadi Rp94.500 per kilogram.

Meski harga jual cabai naik dan dinilai menguntungkan petani, kondisi cuaca di musim hujan menjadi tantangan tersendiri. Sunarto menyebut, intensitas  hujan yang tinggi memicu perkembangan hama thrips dan kutu kebul yang lebih cepat, terutama ketika hujan turun pada malam hari.

Serangan hama tersebut berdampak langsung pada peningkatan penggunaan pestisida. Jika pada musim kemarau penyemprotan cukup dilakukan satu kali dalam sepekan, menurutnya saat musim hujan frekuensi tersebut meningkat menjadi 2 hingga 3 kali seminggu.

"Kalau tidak musim hujan itu penggunaan 50 persen, kalau sekarang mencapai 100 persen. Ekstra. Kalau musim kemarau satu minggu satu kali, kalau musim hujan ini satu minggu dua sampai tiga kali penyemprotannya," terangnya.

Kondisi itu membuat biaya produksi melonjak signifikan. Sunarto menyebut, pengeluaran untuk pengendalian hama menjadi lebih besar dibandingkan musim kering.

"Begitulah, sangat tinggi. Karena curah hujan sangat lebat sekarang," katanya.

Dari sisi produksi, lahan cabai seluas 2.000 meter persegi yang dikelola kelompok tani di wilayah Lesanpuro ini mampu menghasilkan hingga 350 kilogram dalam sekali panen, saat memasuki puncak produksi. 

Namun, untuk mencapai fase tersebut menurut Sunarto dibutuhkan beberapa kali masa panen. "Kalau puncak panen itu bisa mencapai 350 kilogram sekali panen. Tapi biasanya butuh 9 sampai 11 kali panen untuk mencapai puncaknya," jelasnya.

Pada fase awal panen, menurutnya hasil produksi masih relatif rendah. Panen pertama hanya menghasilkan 19 kilogram, sementara panen kedua meningkat menjadi 80 kilogram. Kenaikan produksi secara bertahap ini menjadi harapan petani untuk menutup tingginya biaya operasional di musim hujan.

Menanggapi tingginya biaya produksi tersebut, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Malang, Slamet Husnan mengatakan kebutuhan pestisida sepenuhnya masih ditanggung oleh petani.

"Obatnya dari petani sendiri," katanya.

Meski demikian, Slamet menyebut pemerintah daerah setiap tahun memfasilitasi bantuan benih cabai bagi kelompok tani. Selain itu, sarana pendukung seperti tandon air juga diberikan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (TSP) dari Kantor Perwakilan Bank Indonesia Malang.

"Mayoritas di sini lahan cabai tadah hujan. Itu CSR dari Kantor Perwakilan BI Malang, mulai dari tandon air, kemudian mulsa air, dan hand tractor," jelas Slamet.


 

Reporter: Santi Wahyu/Editor: Ais

Share:
Lentera Today.
Lentera Today.